DI YOGYAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin ini, tertekan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara per akhir kuartal ketiga 2026. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah ditutup di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per USD. Pasar valuta asing mencermati ketahanan kas negara di tengah volatilitas harga komoditas energi global.
Defisit APBN per September 2026 menyentuh Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka itu merangkak naik dibandingkan posisi akhir Agustus 2026 yang berada di level 0,9 persen. Pelebaran terjadi karena realisasi belanja negara melampaui laju pendapatan.
Realisasi belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau melompat 19,0 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian itu setara 69,2 persen dari pagu belanja tahunan sebesar Rp3.842,7 triliun. Sementara pos pendapatan negara terhimpun Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen YoY, merealisasikan 74,2 persen dari target setahun penuh senilai Rp3.153,6 triliun.
Kendati laju pendapatan tumbuh lebih tinggi dibanding belanja, volume pengeluaran yang lebih masif tetap memicu defisit. Posisi defisit itu masih berada di bawah target akhir tahun pemerintah sebesar 2,8 persen.
Kekhawatiran pasar uang bertambah seiring tingginya sensitivitas pengeluaran negara terhadap fluktuasi komoditas energi dunia. Lonjakan harga minyak mentah global dinilai dapat memperberat postur anggaran subsidi di sisa tahun berjalan.
"Sentimen lain yang memberatkan rupiah datang dari risiko kenaikan harga minyak dunia karena setiap kenaikan satu dolar per barel akan menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun," kata Ibrahim.
Meski demikian, bantalan fiskal masih terbantu oleh surplus keseimbangan primer yang kini tercatat mencapai Rp125,5 triliun. Capaian itu melampaui rancangan awal APBN yang memproyeksikan defisit keseimbangan primer sepanjang tahun sebesar Rp89,7 triliun.
Jika ditinjau secara tahunan, tren defisit anggaran sejatinya masih memperlihatkan penurunan tajam. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 tetap terkendali di bawah 2,8 persen dari PDB.
"Pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini cenderung fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per USD. Pasar merespons pelebaran defisit APBN per September 2026 yang menyentuh Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Senin (12/10/2026).
Pelemahan rupiah berpotensi menekan imbal hasil investasi berbasis dolar dan meningkatkan biaya impor bahan baku. Pelaku usaha yang memiliki utang valuta asing perlu mencermati risiko kenaikan beban bunga. Di sisi lain, eksportir komoditas bisa memanfaatkan momentum pelemahan untuk mengerek margin pendapatan.
Pasar valuta asing akan terus memantau rilis data fiskal bulanan dan pergerakan harga minyak mentah dunia. Kombinasi kedua faktor itu menjadi penentu arah rupiah hingga akhir tahun.