YOGYAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menyatakan kebudayaan tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Warisan budaya perlu dipertemukan dengan masyarakat, mengalami perjumpaan dengan generasi baru, serta diberi ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman.
Semangat itu menjadi napas penyelenggaraan Rumaket 2026. Ajang ini rutin digelar tiap tahun dan kini memasuki penyelenggaraan ke-6.
Rumaket 2026 mengusung tema "Hageganti" yang mengajak masyarakat melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan bentuk dan cara penyampaian, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.
"Dengan mengusung tema 'Hageganti', Rumaket 2026 mengajak masyarakat melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan bentuk dan cara penyampaian, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya," kata Yetti.
Tema itu tercermin melalui fokus utama "Hageganti: Transformasi Wayang Jogja". Wayang ditempatkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang membaca kembali nilai, cerita, simbol, dan pengetahuan budaya di kehidupan masyarakat hari ini.
"Tema Hageganti ini mempunyai arti bagaimana pewarisan budaya dimaknai atau disesuaikan dengan kondisi saat ini, supaya bisa dipahami masyarakat atau anak-anak dengan lebih baik," ujarnya.
Rumaket akan menampilkan pertunjukan kolaborasi Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka. Pertunjukan ini menjadi bentuk pendekatan baru dalam mengenalkan wayang kepada anak-anak melalui pengalaman bermain dan pertunjukan.
"Kolaborasi Wayang Playground hadir dengan dalang maupun pemainnya adalah anak-anak. Jadi bagaimana kemudian pewarisan budaya yang disampaikan itu bisa dipahami oleh anak-anak dalam konteks hari ini," kata Yetti.
Selain pertunjukan wayang, Rumaket 2026 menampilkan pertunjukan seni yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Rangkaian itu mencakup dolanan anak tradisional dan tarian.
Pasar kuliner yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda di Kota Yogyakarta juga hadir dalam kegiatan ini.
"Karena proses pelestarian itu harusnya juga konteksnya bagaimana tetap hidup, tetap berjalan, tetap berkelanjutan sampai hari ini," katanya.
Rumaket 2026 berlangsung selama sepekan, 4-10 Oktober 2026, di Taman Pintar Yogyakarta. Kegiatan ini terbuka sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan beragam warisan budaya.
Rangkaian acaranya meliputi pameran, pertunjukan, talkshow, aktivitas anak, workshop, hingga kuliner. Berbagai kegiatan edukatif dan partisipatif juga disiapkan untuk pengunjung.
Penyelenggaraan Rumaket tahun ini turut menjadi bagian dari peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Warga yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Kota Yogyakarta dapat mengunjungi Taman Pintar selama periode tersebut.