Guru Besar Universitas Pertamina: Transisi Energi Indonesia Tak Perlu Ikut Satu Negara

Penulis: Edi Wahyono  •  Rabu, 30 September 2026 | 13:06:31 WIB
Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo berbicara dalam EVolution Forum yang digelar CNNIndonesia, Rabu (30/9).

DI YOGYAKARTA — Indonesia dinilai perlu menerapkan pendekatan multipathway dalam transisi energi, tidak berkiblat pada satu negara atau satu teknologi saja. Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menyatakan potensi bahan bakar nabati cair Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Pendekatan ini mencakup pengembangan kendaraan listrik dan biofuel secara bersamaan.

Pernyataan itu disampaikan Iman dalam acara EVolution Forum yang digelar CNNIndonesia, Rabu (30/9). Ia menilai kondisi geografis dan infrastruktur Indonesia yang beragam membuat strategi transisi energi tidak bisa diseragamkan dengan negara lain.

Menurut Iman, negara-negara subtropis seperti China, Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa tidak memiliki kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair sebesar Indonesia. Karena itu, Indonesia semestinya tidak serta-merta mengikuti agenda elektrifikasi global tanpa memperhitungkan potensi domestik yang sudah terbukti.

B50 Jadi Bukti Indonesia Pelopor Biodiesel Dunia

Iman menyoroti capaian Indonesia dalam industri biodiesel, khususnya program B50 yang disebutnya sudah berjalan dan menjadi contoh di dunia. Menurutnya, keberhasilan ini lahir dari kombinasi kebijakan pemerintah dan keberanian sektor swasta untuk berinvestasi.

"Jadi ya kita harus bijak, jangan juga dibenturkan antara harus EV, harus biofuel, itu sama-sama harus jalan karena masing-masing punya keuntungan," ujar Iman.

Ia menegaskan Indonesia tidak perlu memilih satu jalur secara mutlak. Pengembangan kendaraan listrik dan bahan bakar nabati bisa berjalan bersamaan sesuai keunggulan masing-masing.

Swasta Berperan Kunci di Sektor Biodiesel

Pengalaman Iman selama lebih dari 20 tahun menunjukkan kebijakan mandatory menjadi fondasi, tetapi dorongan swasta yang menentukan keberhasilan jangka panjang. Menurutnya, biodiesel bisa mencapai B50 karena perusahaan swasta melihat peluang keuntungan dan berani menanamkan modal.

"Yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu, ya. Jadi, dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatory-nya ya kebijakan, tapi didorong dengan kuat oleh swasta gitu ya dengan mereka berani invest gitu ya karena mereka tahu bahwa akan untung," jelasnya.

Iman juga mendorong pengembangan energi tidak hanya menyasar perusahaan besar, tetapi juga koperasi. Menurutnya, keterlibatan koperasi bisa memperluas manfaat transisi energi hingga ke level akar rumput.

Tantangan Sosial, Politik, dan Ekonomi

Dalam paparannya, Iman mengakui pengembangan energi menghadapi hambatan di aspek sosial, politik, dan ekonomi. Ketergantungan pada anggaran pemerintah yang terbatas dinilainya tidak cukup untuk mempercepat transisi energi.

Investasi swasta menjadi jalan agar pengembangan energi tidak bergantung sepenuhnya pada dukungan pemerintah. Dengan begitu, program biodiesel dan energi terbarukan lain bisa berjalan lebih konsisten.

Komitmen jangka panjang juga menjadi syarat utama. Iman menyebut capaian Indonesia sebagai produsen biodiesel nomor satu dunia hanya bisa dipertahankan jika ada keberlanjutan kebijakan dan kepercayaan pelaku usaha.

"Akhirnya kita bisa nomor satu di dunia untuk biodiesel. Jadi kebetulan harus disertai dengan komitmen juga yang terus jangka panjang dan nanti si swasta nya tuh bisa berani," katanya.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top