YOGYAKARTA — Museum Affandi bukan sekadar ruang pamer lukisan. Di kompleks yang didesain sendiri oleh sang pelukis pada 1962 dan diresmikan 1973 ini, pengunjung diajak menyusuri tiga galeri dengan karakteristik berbeda, dari karya otentik hingga sketsa perjalanan lintas benua.
Galeri pertama menjadi titik awal yang paling menarik. Di sini, lukisan-lukisan asli Affandi dipajang di bagian bawah, sementara bagian atas hanya menampilkan reproduksi. Nila, Gallery Sitter Museum Affandi, menjelaskan keputusan ini murni pertimbangan teknis.
"Lukisan yang di bawah merupakan lukisan asli yang dilukis Affandi, sedangkan yang di atas adalah lukisan repro karena suhu di atas masih panas dan belum stabil yang membuat lukisan bisa meleleh," jelasnya, Kamis (20/8/2026).
Galeri pertama juga memamerkan sisi personal sang maestro. Penghargaan yang pernah diraihnya tersimpan rapi, bersanding dengan kendaraan pribadi kesayangannya. Ada sepeda dan sebuah Mitsubishi Galant GTO 1970 yang dimodifikasi sendiri oleh Affandi, menunjukkan kecintaannya pada dunia otomotif.
Di galeri yang sama, pengunjung bisa melihat kisah di balik kanvas. Beberapa karya menggunakan sang istri, Maryati, sebagai model. Keputusan itu lahir dari kebutuhan, bukan sekadar romantisme.
"Bu Maryati menawarkan diri dengan satu syarat, kalau yang dilukis tubuh, beliau tidak ingin dilihatkan wajahnya. Bu Maryati berhenti dilukis setelah beliau bilang kalau merasa tua," ujar Nila.
Galeri kedua memiliki cerita berbeda. Dibangun dengan dukungan dana dari Presiden Soeharto dan diresmikan 1988, galeri ini menyimpan sketsa-sketsa perjalanan pertama Affandi ke luar negeri. Goresan pensil di atas kertas itu merekam pengalamannya menaiki kapal menuju India, kemudian melanjutkan perjalanan ke Eropa.
"Kapal dalam perjalanan ke India, di-sketch sama beliau. Jadi perjalanan malam, siang beliau melukis di kapal itu, nanti sampai beliau ke Eropa," ungkap sang gallery sitter.
Galeri ketiga, yang diresmikan tahun 2000, menjadi penutup perjalanan. Berbeda dari dua galeri sebelumnya, ruang ini tidak menampilkan karya Affandi, melainkan karya istri, anak, hingga cucunya. Ini memberi perspektif tentang bagaimana bakat seni mengalir dalam satu keluarga.
Setelah puas berkeliling, pengunjung bisa beristirahat di Café Loteng. Tiket masuk museum bisa ditukarkan dengan berbagai pilihan minuman yang tersedia. Adapun tarif masuk untuk turis domestik dibanderol Rp 50.000, sementara pelajar atau mahasiswa cukup membayar Rp 25.000. Bagi yang ingin mendokumentasikan karya, dikenakan biaya tambahan Rp 20.000.