Kacamata Pintar Meta Kena Stigma Negatif, Pengguna Setia Ogah Pakai di Luar Rumah

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:44:31 WIB
Pengguna kacamata pintar Meta di Yogyakarta memilih tidak memakainya di luar rumah akibat stigma negatif.

DI YOGYAKARTA — Kacamata pintar besutan Meta dan Ray-Ban sejatinya dirancang untuk merekam momen dari sudut pandang orang pertama (POV) dengan mudah. Namun, produk yang dibanderol mulai dari 224 dolar AS (sekitar Rp 3,7 juta) untuk generasi pertama ini justru mendapat sorotan tajam di jagat maya. Di platform seperti Bluesky, tak sedikit unggahan yang menyerukan agar pemakai kacamata ini—yang dijuluki "pervert glasses"—dipukul. Tagar "Meta Glasses" bahkan sempat menjadi tren di Threads pekan lalu karena alasan yang kurang mengenakkan.

Dari Alat Kreatif Jadi Barang "Aib"

Engadget melaporkan, setidaknya lima kreator konten, fotografer, dan pengguna awal yang dulu antusias dengan kacamata ini kini mengubah kebiasaan mereka. Danielle, seorang kreator dan pemandu wisata asal Florida, mengaku berhenti total memakai kacamatanya setelah membaca laporan bahwa kontraktor Meta ditugaskan meninjau gambar intim dan data sensitif hasil rekaman pengguna. "Banyak pria dan perilaku mereka yang telah merusak produk ini," ujarnya kepada Engadget. Ia menambahkan, "Pada titik ini, barang ini seperti pemberat kertas mewah."

Christian Eisenbarth, videografer asal Los Angeles, bahkan belum sekalipun berani memakai kacamata pemberian istrinya di luar rumah. "Terutama karena takut dicap mesum," katanya. Padahal, ia mengaku kualitas rekaman POV dari perangkat ini sangat impresif tanpa perlu repot memasang alat tambahan di dada atau kamera.

Pengguna Pilih "Sembunyi" Biar Tak Dicurigai

Martino Wong, seorang kreator dan penggemar teknologi yang termasuk pengadopsi awal, mengaku mulai lebih berhati-hati. Di tempat ramai, ia kerap melipat kacamata dan menggantungkannya di baju agar orang lain sadar bahwa kamera sedang tidak aktif. "Saya jadi lebih sadar, terutama di lingkungan yang padat," ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Will Kujawa, produser video lepas. Ia sempat berniat membeli kacamata dengan lensa resep untuk konten di balik layar, tetapi urung setelah membaca komentar pedas di media sosial. "Saya melihat semua komentar yang bilang kalau pakai kacamata itu artinya Anda predator atau mesum. Saya berpikir, 'oh, mungkin ini bukan ide yang bagus'," ungkapnya. Kujawa kini berencana tetap membelinya, tapi hanya untuk keperluan syuting dan akan selalu membawa kacamata biasa sebagai cadangan.

Fitur Privasi Masih Kurang, Tanda LED Dinilai Terlalu Kecil

Menariknya, tak satu pun dari mereka yang diwawancarai Engadget pernah mendapat komentar negatif secara langsung di dunia nyata. Namun, gempuran opini di dunia maya sudah cukup untuk mengubah perilaku. Banyak dari mereka berharap Meta menyematkan indikator LED yang lebih terang saat kamera aktif, sehingga orang di sekitar bisa lebih mudah tahu kapan perangkat sedang merekam.

Jeremy, seorang fotografer profesional sekaligus konsultan merek, justru mengaku tidak mengubah kebiasaannya. Namun, ia tetap menyadari besarnya tekanan sosial yang kini membayangi pemilik kacamata pintar tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi wearable seperti kacamata pintar menawarkan kemudahan, aspek etika dan persepsi publik tetap menjadi faktor penentu adopsi. Untuk pasar Indonesia, di mana kesadaran privasi digital juga kian meningkat, stigma ini bisa menjadi batu sandungan serius bagi produk semacam ini—setidaknya sampai Meta memberikan jaminan keamanan dan fitur privasi yang lebih transparan.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top