YOGYAKARTA — Keris bukan sekadar senjata. Benda pusaka ini menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan spiritual yang harus dirawat secara khusus. Kesadaran itulah yang mendorong digelarnya workshop Anjejamas Pusaka, sebuah program edukasi perawatan keris yang melibatkan delapan pengelola dari lintas institusi.
Jamasan Bisa Dilakukan di Luar Bulan Suro Jika Bilah Sudah Kotor
Praktisi pelestarian keris, Agung, menjelaskan setiap bilah keris memiliki karakter berbeda sehingga metode perawatannya tidak bisa disamakan. Ada keris yang cukup dijamasi, ada pula yang memerlukan perawatan lebih lanjut tergantung tingkat korosi.
“Setiap keris memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penangannya juga tidak bisa disamakan. Ada yang cukup dijamasi dan ada juga yang memerlukan perawatan lebih lanjut sesuai tingkat korosinya,” ujar Agung dalam workshop tersebut.
Menurut Agung, proses jamasan sebaiknya dilakukan pada bulan Suro sebagai bagian dari tradisi. Namun, ia menegaskan perawatan tidak perlu menunggu satu tahun penuh jika kondisi bilah sudah kotor. “Jika bilah sudah kotor, jamasan bisa segera dilakukan lebih awal supaya tingkat korosi dapat diketahui dan kerusakan bisa dicegah sejak dini,” tambahnya.
Napak Tilas Karakter Leluhur Lewat Keris
Empu sekaligus akademisi seni rupa, Tejo Tukirno, menuturkan bahwa jamasan bukan sekadar membersihkan keris. Proses ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan sarana memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pusaka.
“Jamasan adalah sebuah kesadaran. Tidak hanya membersihkan keris, tetapi juga memahami makna, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” ucap Tejo.
Ia menambahkan, keris merefleksikan karakter dan nilai-nilai kehidupan para leluhur. “Ketika kita melihat keris, kita dapat melihat karakter leluhur kita. Melalui proses jamasan, kita bisa napak tilas tentang kehidupan para leluhur kita. Oleh karena itu, proses jamasan harus dilakukan dengan benar,” ungkapnya.
Prosesi Jamasan Bulan Suro: Ritual hingga Perlengkapan Simbolis
Tejo mengungkapkan prosesi jamasan yang umumnya dilaksanakan pada bulan Suro memiliki persiapan ritual hingga perlengkapan simbolis yang khusus. Seluruh rangkaiannya merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Sementara itu, moderator workshop Alexandri Luthfi menekankan bahwa sejak diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2005, keris perlu dirawat agar nilai-nilainya tetap terjaga. “Ketika keris memiliki nilai seni, fungsinya berkembang menjadi benda budaya yang kemudian disebut sebagai pusaka. Karena itu keris memang harus dirumat, salah satunya melalui proses jamasan ini,” ungkap Alex.