Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, CERAH: Ini Bukti Ketahanan Energi RI Renta

Penulis: Edi Wahyono  •  Senin, 15 Juni 2026 | 17:36:01 WIB
Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter di tengah gejolak harga minyak dunia.

DI YOGYAKARTA — Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter bukanlah kejutan yang berdiri sendiri. Menurut catatan CERAH (Center of Energy and Resources), pola ini sudah berulang sejak krisis finansial 2008, ketika harga minyak mentah dunia menyentuh US$145 per barel dan BBM nonsubsidi saat itu melonjak ke Rp12.000 per liter. Pola yang sama terulang saat perang Rusia-Ukraina pada 2022, serta eskalasi konflik AS-Iran yang baru-baru ini mendorong harga minyak ke US$126 per barel.

Gejolak Global, Harga BBM Nasional Ikut Terseret

Agung Budiono menjelaskan, sensitivitas harga BBM nasional sangat tinggi karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan bahan bakar dalam jumlah besar. "Setiap kali konflik geopolitik global meletus atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, konsumen dalam negeri langsung menanggung dampaknya," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/6). Menurutnya, tanpa diversifikasi energi, masyarakat akan terus menghadapi risiko kenaikan harga BBM setiap kali terjadi gejolak eksternal.

Transisi Energi Terhambat, Target 100 Persen Energi Bersih Terancam

Untuk memutus rantai ketergantungan ini, CERAH mendesak pemerintah mempercepat transisi energi, terutama elektrifikasi sektor transportasi dan pengembangan energi terbarukan murni. Namun, langkah ini dinilai terganjal inkonsistensi kebijakan. Manager Program & Policy CERAH, Wicaksono Gitawan, mengkritik penundaan insentif kendaraan listrik untuk kuota 200 ribu unit yang seharusnya mulai diberikan awal Juni 2026. "Pemerintah bisa memulainya dengan fokus memberi insentif motor listrik dulu, karena harganya lebih terjangkau bagi kalangan menengah," ujarnya.

Kritik juga dialamatkan pada lambatnya realisasi bauran energi terbarukan. Kementerian ESDM mencatat realisasi baru mencapai 18,3 persen per Kuartal I-2026, naik tipis dari 15,75 persen di akhir 2025. CERAH menilai kenaikan ini semu karena masih memasukkan biomassa dan biodiesel—yang berisiko memicu deforestasi dan justru memperpanjang ketergantungan pada energi kotor.

PLTS 100 GW Jadi Harapan, Eksekusi Masih Numpuk di Wacana

Agung Budiono menegaskan, pemerintah seharusnya fokus merealisasikan megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang digagas Presiden Prabowo. "Kementerian ESDM baru membuka diskusi untuk mengembangkan 17 GW sebagai pilot project. Rencana ini harus benar-benar berjalan, bukan sekadar wacana," tegasnya. Tanpa eksekusi nyata, target ambisius bauran energi bersih 100 persen pada 2035 dinilai hanya tinggal angan.

Kenaikan harga Pertamax kali ini menjadi pengingat mahal: selama Indonesia belum serius lepas dari energi fosil, masyarakat akan terus membayar harga dari ketidakstabilan dunia yang tidak bisa mereka kendalikan.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top