87 Kali Kebakaran Misterius Terjadi di Rumah Warga Seyegan Sleman, Peneliti UPN Jogja Lacak Jalur Gas Bawah Tanah

Penulis: Boyke Sihombing  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 18:32:31 WIB
Tim peneliti UPN Jogja melakukan pemetaan geolistrik untuk mengidentifikasi sumber gas bawah tanah di lokasi kebakaran di Seyegan.

SLEMAN — Kebakaran spontan yang terus menerus melanda rumah seorang warga di Seyegan masih belum terpecahkan. Hingga Rabu pagi, total kejadian telah mencapai 87 kali, dengan semburan api terakhir terjadi pada pukul 00.50 WIB. Benda-benda di dalam rumah seperti rak di ruang tengah, sandal di lorong, lemari, hingga buku di kamar dilaporkan terbakar tanpa sumber api yang jelas.

Metode Geolistrik untuk Membaca Lapisan Bawah Tanah

Tim peneliti FTME UPN 'Veteran' Jogja mulai melakukan pemetaan bawah permukaan di lokasi untuk mengidentifikasi struktur batuan yang menjadi tempat berkumpulnya gas. Koordinator tim, Ardian Novianto, mengatakan metode geolistrik digunakan untuk memetakan lapisan batuan berdasarkan nilai resistivitas atau hambatan jenis listrik batuan.

"Jadi ini kami akan mencoba melakukan identifikasi untuk subsurface-nya. Artinya kita mau mencoba melihat lapisan-lapisan bawah permukaannya seperti apa," kata Ardian di lokasi pengukuran, Rabu.

Tim berencana membuat enam hingga tujuh lintasan pengukuran dengan panjang sekitar 200 meter per lintasan. Langkah ini diambil untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai kondisi geologi di kawasan tersebut, tidak hanya terbatas pada satu titik pengukuran.

Jenis Gas Masih Misterius: Metana Minor atau Hidrogen?

Hingga saat ini, jenis gas yang memicu kebakaran berulang tersebut belum dapat dipastikan. Ardian mengungkapkan bahwa dari beberapa pengukuran awal, memang ada indikasi metana. Namun, saat diukur oleh tim ESDM, kandungan metana yang terdeteksi tergolong minor. "Tadi malah ada informasi hidrogen," imbuhnya.

Di sisi lain, Penyelidik Bumi Muda dari Balai Besar Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BBPTKG), Aris Dwi Nugroho, menjelaskan bahwa timnya saat ini fokus pada pembersihan area sungai yang ditengarai menjadi sumber gas. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan rumpun bambu di lokasi.

Konsentrasi Gas Masih Rendah, Rekahan Batuan Jadi Sasaran

Hasil pemetaan awal menunjukkan adanya titik yang terdeteksi mengandung gas dengan konsentrasi sekitar 4 persen LEL (Lower Explosive Limit). Meskipun angka tersebut tergolong rendah, dugaan sementara gas bergerak melalui rekahan atau kekar batuan di bawah permukaan menuju area rumah Agus.

"Di sebelah barat ada struktur sesar yang kemudian membentuk sesar-sesar kecil atau kekar. Dugaan sementara gas menyebar melalui rekahan itu menuju ke rumah Pak Agus," ujar Aris.

Ia menambahkan bahwa pembersihan lumpur dan bambu di sungai dilakukan untuk menghilangkan dugaan sumber metana. "Harapannya kalau ini hilang, (gas metana) udah enggak ada di sana. Harapannya lho," katanya. Seluruh dugaan ini masih menunggu hasil pengukuran lanjutan dan analisis laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dari fenomena kebakaran misterius ini.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top