JAKARTA — Rupiah kembali terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (28/5) pagi. Data Bloomberg pukul 09.00 WIB mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS, melemah signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya dolar AS secara global. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut sentimen negatif datang dari berita penyerangan terbaru AS ke Iran.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Level Rp17.900 menjadi batas psikologis yang diwaspadai pelaku pasar.
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Mata uang di kawasan Asia juga terpantau kompak melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura turun 0,16 persen, dan yuan China turun 0,05 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,03 persen.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan produk elektronik. Bagi masyarakat yang bepergian ke luar negeri, biaya tiket pesawat dan akomodasi dalam dolar AS otomatis membengkak.
Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah. Sektor komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara biasanya menjadi yang pertama merasakan dampak positif ini.
Pelemahan terhadap dolar AS juga terjadi di negara maju. Euro Eropa turun 0,13 persen dan poundsterling Inggris turun 0,19 persen. Dolar Australia terkoreksi 0,29 persen, sementara dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing turun 0,10 persen dan 0,20 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS bersifat global, bukan hanya menekan rupiah. Namun, fundamental ekonomi domestik tetap menjadi faktor penentu seberapa dalam rupiah bisa tertekan.
Lukman belum melihat potensi tembusnya level Rp18.000 dalam waktu dekat. Namun, jika konflik AS-Iran terus memanas tanpa ada tanda-tanda de-eskalasi, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah stabilisasi ini menjadi kunci agar pergerakan rupiah tidak terlalu volatil dan meresahkan pasar.