YOGYAKARTA — Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mengintensifkan pengawasan terhadap tempat penjualan hewan kurban dan pasar tiban yang mulai marak menjelang Idul Adha 1447 Hijriah. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Yogyakarta, Sukidi, menyatakan pengawasan difokuskan pada kondisi kesehatan hewan, ketersediaan pakan, dan air minum.
"Pengawasan dilakukan untuk memastikan hewan yang dijual dalam kondisi sehat, memiliki kecukupan pakan dan air minum, tidak menunjukkan gejala penyakit, serta memenuhi persyaratan kesehatan hewan," kata Sukidi di Yogyakarta, Minggu.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Yogyakarta berkoordinasi dengan Kementerian Agama, pengurus masjid, dan unsur masyarakat. Seluruh data hasil pengawasan akan dihimpun secara real-time melalui Pos Informasi Kurban Dinas Pertanian dan Pangan Yogyakarta.
Data tersebut kemudian dikoordinasikan dengan instansi terkait sebagai bahan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurban tahun ini. Sukidi mengimbau masyarakat untuk membeli hewan kurban di tempat penjualan yang sehat dan terpercaya.
Berdasarkan data pengawasan tahun-tahun sebelumnya, tren pemotongan hewan kurban di Yogyakarta terus meningkat. Pada 2023 tercatat 6.870 ekor, naik menjadi 7.432 ekor pada 2024, dan kembali naik signifikan menjadi 8.253 ekor pada 2025.
Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian dan Pangan memprediksi jumlah hewan kurban mencapai 7.952 ekor, terdiri dari sapi, kambing, dan domba. Titik pemotongan diperkirakan tersebar di sekitar 570 lokasi yang berada di 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta.
Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan kesehatan hewan sebelum dibeli, tetapi juga memastikan proses pemotongan dilakukan secara higienis. Pemkot Yogyakarta mengajak momentum Idul Adha dijadikan sarana meningkatkan kesadaran tentang keamanan pangan dan kesehatan masyarakat veteriner.
"Masyarakat diharapkan membeli hewan kurban di tempat penjualan yang sehat dan terpercaya serta memastikan proses pemotongan dilakukan secara higienis," ujar Sukidi.