Enam Kelompok Teater Baca Dinamika Urban Jogja di YUTFest 2026

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 14:54:01 WIB
Enam kelompok teater tampil dalam YUTFest 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.

YOGYAKARTA — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar Yogyakarta Urban Theatre Festival (YUTFest) 2026 sebagai wadah pembacaan dinamika kota. Sebanyak enam kelompok teater lintas latar belakang akan tampil setelah melewati proses kurasi ketat dari puluhan proposal yang masuk ke meja panitia.

Penyelenggaraan tahun ini sengaja dirancang lebih fokus dengan jumlah penampil yang terbatas. Langkah tersebut diambil untuk menjaga kualitas apresiasi penonton terhadap karya-karya yang disuguhkan selama tiga hari festival berlangsung.

“Dengan jumlah kelompok yang tampil lebih terkurasi, apresiasi penonton bisa lebih maksimal. Konsentrasi dalam menikmati pertunjukan juga lebih terjaga sehingga penonton leluasa menafsirkan karya teater tahun 2026,” ujar pihak TBY dalam keterangannya pada Selasa (5/5/2026).

Jadwal Pertunjukan: Dari Teater Kampus hingga Komunitas Kampung

Enam kelompok yang terpilih membawa karakter artistik yang beragam, mulai dari teater kampus, sanggar, hingga kelompok profesional. Mereka akan mengeksplorasi berbagai genre, termasuk eksperimen teater dokumenter hingga kolaborasi seni pedalangan dengan tari.

Berikut adalah jadwal pementasan YUTFest 2026 di Taman Budaya Yogyakarta:

  • 6 Mei 2026: Teater Seriboe Djendela dan Sanggar Ori Gunung Kidul.
  • 7 Mei 2026: Emprit Sett Panggung dan Serbet Budaya.
  • 8 Mei 2026: Mendak Creative dan Hurung Nemu.

Pihak penyelenggara menekankan bahwa festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan instrumen untuk mengeksplorasi ikatan sosial. Teater diposisikan sebagai arena produktif untuk menegosiasikan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat Yogyakarta saat ini.

Mengapa Menggunakan Perspektif Urban untuk Melihat Jogja?

Pemilihan tema "urban" dalam festival ini didasari pada posisi Yogyakarta sebagai ruang interaksi yang terus berubah. Perspektif urban memungkinkan seniman memotret bagaimana kelompok masyarakat, baik di kota maupun desa, merespons pergeseran sosial yang terjadi di sekitarnya.

“Urban menjadi perspektif untuk melihat Jogja hari ini. Kelompok-kelompok teater di DIY, baik yang tumbuh di kota maupun desa, memiliki cara masing-masing dalam merespons perubahan sosial,” jelasnya.

TBY juga menegaskan komitmennya untuk tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa harus terpaku pada pakem lama dalam hal pembinaan seni. Festival ini mendorong lahirnya gagasan-gagasan kreatif yang berani, bahkan yang berpotensi memicu dialog kritis di ruang publik.

“Taman Budaya berupaya menjadi ruang terbuka bagi eksplorasi ide. Kami berharap kelompok teater menghadirkan gagasan yang menggelitik, bahkan yang berpotensi memunculkan konflik sebagai bagian dari dinamika kreatif,” pungkasnya.

Reporter: Cecep Sudrajat
Back to top