SLEMAN - Bidang ekonomi menjadi indikator paling menonjol dalam capaian pembangunan Kabupaten Sleman sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini tercatat menyentuh angka 6,53 persen, sebuah pencapaian yang melampaui target rencana pembangunan yang sebelumnya dipatok pada kisaran 5,11 hingga 5,74 persen.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman, Nur Fitri Handayani, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan parameter krusial untuk mengukur efektivitas pembangunan daerah. Keberhasilan ini mencerminkan dinamika aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak lebih cepat dari proyeksi awal pemerintah daerah.
“Indikator paling signifikan untuk melihat keberhasilan pembangunan adalah rumpun ekonomi. Tahun 2025 kita menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,11 sampai 5,74 persen dan realisasinya mencapai 6,53 persen. Artinya kita berhasil melampaui target,” ujar Nur Fitri Handayani dalam konferensi pers yang digelar di Sleman, Kamis (30/4/2026).
Lonjakan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sleman tidak lepas dari meningkatnya kepercayaan investor. Nur Fitri menjelaskan bahwa realisasi investasi, baik melalui Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), menunjukkan tren positif yang konsisten sepanjang tahun 2025. Masuknya modal ini memberikan stimulan bagi pembukaan lapangan kerja baru dan peningkatan produktivitas daerah.
Selain faktor investasi, percepatan pembangunan infrastruktur nasional yang melintasi Sleman turut memberikan dampak rembesan (trickle-down effect) yang besar. Proyek strategis seperti jalan tol Yogyakarta–Bawen dan Yogyakarta–YIA menjadi katalisator bangkitan ekonomi lokal. Infrastruktur ini tidak hanya memperbaiki konektivitas, tetapi juga meningkatkan perputaran uang melalui penyerapan tenaga kerja konstruksi serta konsumsi barang dan jasa di sekitar lokasi proyek.
“Progres pembangunan infrastruktur, termasuk jalan tol Yogyakarta–Bawen dan Yogyakarta–YIA, ikut mendorong bangkitan ekonomi, baik dari sisi tenaga kerja maupun konsumsi barang dan jasa,” jelas Fitri. Pemerintah daerah juga berhasil menjaga stabilitas daya beli masyarakat dengan menekan angka inflasi pada kisaran terkendali, yakni 2 hingga 3 persen.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut berbanding lurus dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan di Sleman. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2025 tercatat sebesar 4,07 persen. Angka ini lebih baik dari target yang ditetapkan dalam rentang 4,13 hingga 5,08 persen. Keberhasilan ini didorong oleh berbagai inovasi layanan publik yang mendekatkan pencari kerja dengan peluang yang ada.
Beberapa program unggulan seperti Taksi Pekerja, Pasar Kerja Keliling, hingga Job Canvassing terbukti efektif mempermudah akses informasi lowongan kerja bagi warga. Selain itu, pemberian pelatihan berbasis kompetensi dilakukan secara masif untuk memastikan kualitas tenaga kerja lokal sesuai dengan kebutuhan industri modern yang masuk ke Sleman.
“Pemerintah juga menjaga stabilitas ketenagakerjaan melalui fasilitasi hubungan industrial, deteksi dini persoalan tenaga kerja, serta perlindungan kesejahteraan pekerja untuk meminimalkan PHK,” tambah Fitri. Langkah preventif ini diambil guna memastikan iklim usaha di Sleman tetap kondusif bagi pekerja maupun pemberi kerja.
Sektor jasa, pendidikan, perdagangan, pariwisata, serta UMKM dan ekonomi kreatif tetap menjadi tulang punggung ekonomi Sleman. Diversifikasi sektor ini membuat struktur ekonomi daerah menjadi lebih dinamis dan tahan terhadap guncangan. Dampaknya, angka kemiskinan di Kabupaten Sleman berhasil ditekan hingga ke level 6,71 persen, melampaui target penurunan di angka 6,98 sampai 7,45 persen.
Upaya memutus rantai kemiskinan juga dilakukan melalui investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Pemkab Sleman mengalokasikan beasiswa khusus dari APBD bagi anak-anak dari keluarga miskin. Saat ini, sekitar 400 anak telah mendapatkan fasilitas pendidikan melalui program ini, dengan rencana penambahan 100 mahasiswa baru setiap tahunnya melalui proses seleksi yang ketat.
Dari sisi daya saing, Sleman mengukuhkan posisinya sebagai daerah unggulan dengan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) mencapai 4,14 persen, melampaui target 4,13 persen. Prestasi ini membawa Sleman meraih penghargaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai daerah terbaik kedua di tingkat nasional. Kekuatan ini ditopang oleh sektor pertanian dengan komoditas ikonik seperti salak pondoh dan salak madu, serta sektor jasa perhotelan dan restoran.
Kondisi fiskal daerah juga semakin menguat dengan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menyentuh Rp1,184 triliun pada tahun 2024. Ketersediaan ruang fiskal yang memadai ini diharapkan dapat terus memperkuat program-program pembangunan inovatif dan berkelanjutan bagi masyarakat Sleman pada tahun-tahun mendatang.