Warga Gemblakan, Danurejan, Kota Yogyakarta membuktikan keterbatasan lahan bukan penghalang ketahanan pangan dengan memanen bawang merah yang ditanam di galon bekas. Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai metode urban farming ini bisa menjadi percontohan bagi kawasan perkotaan lain yang lahannya sempit.
YOGYAKARTA — Pekarangan sempit di tengah kota tidak lagi menjadi alasan untuk tidak bercocok tanam. Di Gemblakan, Danurejan, Kota Yogyakarta, warga membuktikan bahwa galon bekas air minum bisa disulap menjadi lahan produktif untuk menanam bawang merah hingga cabai.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menyebut praktik ini sebagai solusi nyata ketahanan pangan di kawasan urban. Menurutnya, hasil panen dari media tanam galon bekas tidak kalah dengan penanaman di lahan terbuka.
"Konsepnya urban farming, menanam di galon-galon bekas, hasilnya juga tidak kalah. Metode ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung ketahanan pangan di kawasan perkotaan," kata Wawan di Yogyakarta, Selasa.
Panen Perdana Bawang Merah dari Halaman Rumah
Salah satu warga Gemblakan, Daliman, sudah membuktikan hasilnya. Bawang merah yang ditanamnya di galon bekas telah dipanen setelah menjalani perawatan selama kurang lebih dua bulan.
Daliman membagikan kunci suksesnya: media tanam harus gembur. Ia menggunakan campuran tanah dan sekam agar umbi bawang cepat berkembang. Penyiraman dilakukan rutin setiap hari.
"Bawang merah membutuhkan tanah yang gembur, tidak keras, supaya umbinya cepat tumbuh. Penyiraman tanaman rutin, intinya sehari satu kali. Untuk bawang merah ini memiliki masa panen sekitar dua bulan," ujarnya.
Cabai, Tomat, hingga Sawi Bisa Ditanam di Galon
Metode ini tidak terbatas pada bawang merah. Wawan menyebut warga juga bisa memanfaatkan galon bekas untuk menanam cabai, tomat, sawi, maupun terong di ruang kosong sekitar rumah.
Dengan pola tanam bertahap, produktivitas lahan sempit bisa ditingkatkan. Daliman mencontohkan, ia menyisipkan tanaman cabai saat bawang merah berumur satu bulan. Saat bawang dipanen di usia dua bulan, bibit cabai sudah tumbuh dan siap dirawat untuk panen berikutnya.
"Ini menginspirasi warga untuk ketahanan pangan. Cabai ditanam sendiri, bawang merah tanam sendiri. Bisa jadi solusi untuk perkotaan yang sempit. Urban farming di kota bisa berjalan walaupun tidak memiliki lahan yang besar," kata Wawan.
Modal Niat dan Sinar Matahari
Wawan menegaskan bahwa keterbatasan lahan bukan kendala utama. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan akses terhadap sinar matahari yang cukup.
"Yang penting niat dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Lahan sempit sekalipun bisa menjadi tempat bercocok tanam," katanya.
Keberhasilan warga Gemblakan ini diharapkan menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Kota Yogyakarta. Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, praktik ini juga berpotensi menambah penghasilan jika hasil panen dijual.
"Ini bisa menjadi percontohan bagi warga setempat untuk menanam bawang merah di tempat-tempat lain," pungkas Wawan.