JOGJA — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak berhenti pada seremoni tahunan. Melalui pengajian kebangsaan, santri dan tokoh agama diajak menjadikan nilai keagamaan sebagai landasan kehidupan masyarakat yang rukun dan saling menghormati.
Dua pembicara dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni Kiai Mu'inan Rafi' yang akrab disapa Mu'inan, serta Qudori yang menjabat Ketua Densus 99 Asmaul Husna Nahdlatul Ulama sekaligus Ketua Komunitas Santri Ndugal. Keduanya menyoroti peran santri dalam menjaga keutuhan bangsa.
Mu'inan menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan seharusnya tercermin melalui sikap toleran, kepedulian sosial, dan kemampuan menjaga hubungan baik di tengah perbedaan. Menurutnya, kerukunan membutuhkan keterlibatan bersama agar masyarakat dapat hidup aman dan tenteram.
"Nilai-nilai keagamaan diharapkan tercermin melalui sikap toleran, kepedulian sosial, dan kemampuan menjaga hubungan baik di tengah perbedaan. Kerukunan membutuhkan keterlibatan bersama agar masyarakat dapat hidup dengan aman, tenteram, dan damai," kata Mu'inan.
Ia juga menyoroti pentingnya dialog dan sikap saling menghargai. Kesadaran menghindari tindakan yang memicu perselisihan dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat persaudaraan dan menjaga keutuhan bangsa.
Dari sisi lain, Qudori menyoroti peran santri dan komunitas masyarakat dalam merawat persatuan serta mencegah berkembangnya provokasi di lingkungan sosial. Semangat kebangsaan diharapkan tidak hanya diwujudkan lewat seruan, tetapi melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi warga.
"Santri diharapkan turut mencerdaskan masyarakat, menjaga persaudaraan, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang berpotensi memecah belah persatuan," ujar Qudori.
Ia menegaskan bahwa menjaga bangsa merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata tugas pemerintah atau aparat keamanan. Keterlibatan tokoh agama, santri, dan komunitas sosial diharapkan menciptakan lingkungan kondusif serta memperkuat gotong royong antarkelompok.
Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober sebagai pengingat kontribusi santri dalam perjalanan sejarah Indonesia, termasuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dalam konteks kini, peran santri diharapkan terus berkembang melalui pendidikan, penguatan karakter, dan keterlibatan aktif menjaga persatuan.
Di DIY, kerukunan menjadi unsur penting untuk menjaga kehidupan masyarakat yang aman. Sinergi antara tokoh agama, santri, komunitas masyarakat, dan pemerintah diharapkan memperkuat ketahanan sosial serta mencegah konflik di tengah masyarakat.
Melalui pengajian kebangsaan tersebut, warga diajak menjadikan doa sebagai bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan bangsa yang rukun dan makmur. Semangat Hari Santri Nasional 2026 diharapkan tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persaudaraan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.