Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menyerahkan sekitar 50 Lodong Sisa Dapur (Losida) kepada warga Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Nogotirto, Sleman, sebagai sarana pengelolaan sampah organik skala rumah tangga. Distribusi tahun keempat ini menyasar 17 RT dan enam RW di padukuhan tersebut, dengan Losida yang dihias oleh 50 perwakilan kelompok mahasiswa baru. Program ini memperluas dampak pengelolaan sampah dari lingkungan kampus ke komunitas sekitar.
SLEMAN — Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Agama Islam, Kemuhammadiyahan dan Keaisyiyahan Unisa Yogyakarta Prof. Mufdlilah menyatakan bantuan Losida sudah rutin dilakukan kampusnya. Tahun ini, sasaran distribusi berada di Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Nogotirto.
"Ini sudah masuk tahun keempat dengan sasaran distribusi tahun ini di Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Nogotirto, Sleman," kata Mufdlilah di Sleman, Rabu.
Sebanyak 50 Losida yang didistribusikan dihias atau dilukis oleh 50 perwakilan kelompok mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian aktivitas kampus bagi mahasiswa baru Unisa Yogyakarta.
Sebelum turun ke lapangan, seluruh perwakilan mahasiswa menerima sosialisasi mengenai pengelolaan sampah menggunakan Losida. Pengetahuan itu diharapkan diteruskan kepada warga penerima manfaat.
"Semua kemarin sudah mendapatkan sosialisasi. Sehingga itu nanti menjadi nilai pengabdian bagi mereka di lingkungan mana pun," katanya.
Mufdlilah menegaskan Unisa Yogyakarta tidak berhenti pada pengelolaan sampah di lingkungan kampus. Kampus ingin memperluas manfaat program ke masyarakat yang menjadi bagian dari pengembangan komunitasnya.
"Sekarang kita berpikir untuk dampak ini tidak hanya untuk lingkungan kampus, tetapi juga kepada lingkungan yang menjadi community development-nya Unisa," katanya.
Lewat edukasi Losida, kampus berharap mahasiswa memiliki kesadaran baru soal sampah. Sampah dinilai bukan sekadar barang sisa yang harus dibuang, melainkan bisa dikelola dan dimanfaatkan.
"Mereka harus disadarkan bahwa sampah itu perlu dikelola, sampah itu harus dimanfaatkan, sampah itu bukan barang yang sisa, tetapi bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Dukuh Karangtengah Surahmin menyatakan masyarakat menerima baik program Losida dari Unisa Yogyakarta. Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan yang belum tuntas di lingkungan warga.
"Saya yakin, karena pada saat ini masalah sampah itu menjadi masalah yang belum bisa terpecahkan. Salah satunya adalah sampah organik, sehingga ini Losida bisa untuk mengurai sampah organik," ujarnya.
Pada tahun ini, Unisa Yogyakarta akan memasang sekitar 50 Losida di Padukuhan Karangtengah yang terdiri atas 17 RT dan enam RW. Sebaran itu menjangkau hampir seluruh wilayah administrasi padukuhan.
Surahmin berharap keberadaan Losida menjadi percontohan bagi masyarakat. Warga diharapkan mampu membuat dan memasang Losida secara mandiri di rumah masing-masing.
Jika warga bisa memproduksi sendiri, pengelolaan sampah organik di Karangtengah tidak lagi bergantung pada bantuan pihak luar. Kebutuhan lodong bisa dipenuhi dari lingkungan setempat.