Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Muhammad Jusuf Kalla menyoroti tingginya angka sarjana menganggur di Indonesia dan meminta perguruan tinggi meningkatkan kualitas lulusan, bukan sekadar mengejar jumlah. Pernyataan itu disampaikan Jusuf Kalla usai menghadiri Pelantikan Kepengurusan PMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026-2031 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Minggu. Ia menilai ketidakseimbangan antara pasokan lulusan dan permintaan lapangan kerja menjadi akar persoalan.
YOGYAKARTA — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Muhammad Jusuf Kalla menilai persoalan sarjana menganggur di Indonesia bersumber dari ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja. Ia menyampaikan hal itu di sela menghadiri Pelantikan Kepengurusan PMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026-2031 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Minggu.
"Ada dua hal kalau banyak sarjana menganggur. Artinya supply lebih besar daripada demand," kata Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla menyebut setiap tahun ada sekitar satu juta sarjana yang lulus dari berbagai perguruan tinggi. Jumlah itu tidak diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja yang memadai.
"Nah memang itu terjadi. Setiap tahun ada sekitar satu juta sarjana, sementara lapangan kerjanya terbatas," katanya.
Menurutnya, banyak perguruan tinggi meluluskan sarjana dari berbagai disiplin ilmu dalam jumlah besar. Permintaan akan lapangan pekerjaan pun tinggi, tetapi tidak terserap seluruhnya.
Jusuf Kalla mendorong perguruan tinggi mengubah cara pandang dalam menghasilkan lulusan. Kualitas, menurut dia, harus menjadi prioritas utama.
"Perlu adanya suatu cara untuk meningkatkan kualitas, tidak asal selesai (lulus) bagi sarjana, tapi kepada perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas," katanya.
Ia menegaskan kampus dan universitas tidak boleh asal memproduksi sarjana dalam jumlah banyak. Peningkatan kualitas lulusan harus berjalan seiring agar mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Jusuf Kalla menyoroti fenomena lulusan sarjana yang bekerja jauh di bawah kualifikasi akademiknya. Ia menyebut contoh seperti bekerja sebagai satpam atau tenaga kebersihan.
Kondisi itu, menurut dia, menjadi gambaran nyata dari persoalan penyerapan tenaga kerja yang belum optimal. Di sisi lain, ia menilai pengaturan lapangan kerja dan ekonomi perlu diperbaiki.
"Sementara lapangan kerja dan ekonomi kita agar lebih baik pengaturannya, sehingga lapangan kerja tercipta," katanya.
Pernyataan Jusuf Kalla disampaikan usai menghadiri pelantikan Kepengurusan PMI Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2026-2031. Acara berlangsung di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.
Kehadiran Jusuf Kalla dalam forum tersebut sekaligus menjadi momen ia menyoroti persoalan ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi di Indonesia.