DI YOGYAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21%, sementara inflasi inti tahunan berada di 2,92%. Ateng Hartono, Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyampaikan angka tersebut dalam rilis resmi BPS pada 1 September 2026.
Angka inflasi tahunan 3,19% berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan 3,11%, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Inflasi tahun kalender (year to date) tercatat 1,86%.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan 9,25% — tertinggi di antara seluruh kelompok pengeluaran. Emas perhiasan menjadi faktor dominan di balik angka itu.
Kelompok ini menyumbang andil 0,63 poin persentase atau 19,7% dari total inflasi Agustus 2026. Harga emas perhiasan dipengaruhi harga emas internasional dan nilai tukar rupiah, bukan semata permintaan domestik.
Artinya, arah inflasi kelompok ini ke depan akan mengikuti pergerakan harga emas dunia dan kurs dolar AS terhadap rupiah, termasuk sentimen kebijakan suku bunga The Fed.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,13 poin persentase atau 35,4% dari total inflasi. Kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan ikan segar mendorong kelompok ini.
Permintaan ayam ras naik setelah program Makan Bergizi Gratis berjalan pasca libur sekolah. Sementara produksi cabai menurun di sejumlah sentra seperti Sampang, Lamongan, dan Temanggung.
Secara wilayah, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 5,28%, sedangkan terendah di Kalimantan Utara pada 2,17%.
Tiga kelompok pengeluaran menyumbang 73,4% dari total inflasi Agustus 2026, menurut rincian BPS yang dilansir receh.in. Berikut rinciannya:
Produksi beras nasional diperkirakan 0,90% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Potensi dampak El Nino hingga awal 2027 menambah tekanan pada pasokan pangan.
Kombinasi faktor emas dan pangan membuat arah inflasi masih perlu dipantau dalam beberapa bulan mendatang. Bagi investor, pergerakan harga emas dunia dan kurs rupiah akan menjadi indikator penting untuk membaca tekanan inflasi ke depan.
Investasi mengandung risiko.