DI YOGYAKARTA — Pengumuman itu disampaikan Prabowo saat melepas kontingen Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9). Dalam sambutannya, ia mengaku mendapat laporan dari Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir, mengenai besaran insentif tersebut.
"Saya enggak lupa, saya diberi laporan oleh Pak Erick, 'Pak untuk SEA Games medali emas dapat Rp1 miliar', tapi ini Asian Games, medali emas Rp3 miliar," ujar Prabowo di hadapan para atlet.
Kebijakan ini menandai lonjakan signifikan dibandingkan dua edisi sebelumnya. Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, pemerintah mengucurkan Rp1,575 miliar untuk setiap peraih emas. Namun, angka itu berlaku khusus untuk cabang olahraga perorangan.
Untuk kategori ganda dan beregu di Hangzhou, bonus diberikan secara proporsional. Konsekuensinya, nominal yang diterima atlet di dua kategori tersebut lebih kecil dibandingkan rekan mereka di nomor individu.
Dua tahun sebelumnya, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, struktur bonus sudah diatur lebih terperinci. Pemerintah saat itu menetapkan atlet individu peraih emas mendapat Rp1,5 miliar.
Perbedaan nominal mulai terlihat jelas pada nomor beregu. Atlet ganda/berpasangan memperoleh Rp1 miliar, sementara kontingen beregu "dihadiahi" Rp750 juta per orang.
Perbandingan paling mencolok terlihat jika mundur ke Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Kala itu, bonus untuk peraih emas cabor individu hanya Rp400 juta. Artinya, dalam kurun waktu 12 tahun, nilai insentif yang dijanjikan pemerintah mengalami kenaikan hingga 650 persen.
Kenaikan ini mencerminkan apresiasi negara yang semakin besar terhadap prestasi atlet di panggung multievent terbesar se-Asia. Berikut rincian bonus peraih emas dalam tiga edisi terakhir:
Dengan skema terbaru ini, para atlet yang akan berlaga di Jepang pada 2026 memiliki motivasi ekstra. Pertanyaannya kini, mampukah kontingen Merah Putih memperbaiki perolehan medali dan membawa pulang lebih banyak emas untuk menikmati bonus bersejarah tersebut?