Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) resmi memberlakukan kurikulum baru bernama Kemercubuanaan yang memuat pengembangan budaya dan peradaban khas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun ajaran 2026/2027. Kebijakan ini merupakan implementasi dari Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sesuai anjuran Gubernur DIY dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah Yogyakarta. Penerapan kurikulum tersebut berbarengan dengan kegiatan Pengenalan Rangkaian Awal Dunia Pembelajaran Tatanan Akademik (Pradipta) 2026 yang diikuti sekitar 1.500 mahasiswa baru.
YOGYAKARTA — UMBY mulai menggelar Pradipta 2026, sebuah rangkaian pengenalan dunia kampus bagi mahasiswa baru. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini mengusung konsep Zero Waste, di mana peserta dilarang membawa botol minum sekali pakai.
"Konsep Zero Waste, dimana mahasiswa tidak diperkenankan membawa wadah botol minum, namun kita sediakan juga isi ulang menggunakan tumbler, jadi kita juga disediakan dispenser-dispenser isi ulang," kata Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMBY Reo Sambodo di Yogyakarta, Selasa.
Kurikulum Kemercubuanaan yang mulai berlaku tahun ini disebut sebagai yang pertama kali di kampus tersebut. Materi di dalamnya mencakup berbagai istilah dan ungkapan khas budaya Yogyakarta, termasuk informasi seputar Kejogjaan.
"Kami ada yang namanya Kemercubuanaan, kurikulum baru yang berisi muatan-muatan lokal yang akan mengembangkan dari budaya dan peradaban di Yogyakarta," ujar Biro Humas UMBY Widarta di sela kegiatan Pradipta 2026.
Menurut Widarta, kurikulum ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur DIY dan LLDikti Wilayah Yogyakarta mengenai penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di lingkungan perguruan tinggi.
Pembukaan Pradipta 2026 berlangsung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak 1.500 mahasiswa baru serentak melakukan salam Jogja Istimewa sebagai penanda dimulainya kegiatan yang memadukan unsur kebudayaan lokal tersebut.
UMBY juga menegaskan posisinya sebagai kampus inklusif. Reo Sambodo menyebut kampus bersahabat dengan mahasiswa difabel dan telah memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD).
Rektor UMBY Agus Slamet menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa baru yang masuk sekitar 1.500 orang tidak mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Ia juga memaparkan posisi kampus di tingkat nasional maupun regional.
"Untuk peringkat perguruan tinggi di Indonesia, kampus ini menduduki peringkat 136 dari sekitar 4.000 perguruan tinggi di Indonesia," kata Agus Slamet dalam arahannya.
Di tingkat lokal, UMBY berada di peringkat 11 dari 105 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Yogyakarta. Jumlah itu mencakup 100 perguruan tinggi swasta dan lima perguruan tinggi negeri di DIY.
Untuk menjaga kualitas pengajaran, kampus memberikan beasiswa kepada dosen dan tenaga pendidik guna melanjutkan studi ke jenjang S3 di luar negeri. "Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pendidikan di sini," imbuh Reo Sambodo.