37 EWS di Lereng Merapi Dipastikan Siap, BPBD Sleman Kebut Mitigasi Hadapi Status Siaga

Penulis: Dedi Supriadi  •  Selasa, 08 September 2026 | 10:32:01 WIB
Petugas BPBD Sleman memeriksa kesiapan 37 early warning system (EWS) di lereng Gunung Merapi, Jumat (5/1/2024).

SLEMAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mempercepat berbagai langkah mitigasi menyusul tingginya dinamika aktivitas Gunung Merapi. Status Siaga yang bertahan sejak 5 November 2020 menuntut kesiapsiagaan penuh, terutama dari sisi peralatan dan infrastruktur pendukung evakuasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, aktivitas vulkanik Merapi masih fluktuatif dengan potensi guguran material yang terjadi setiap hari.

Merapi Masih Dinamis, Guguran Capai 120 Kali per Hari

"Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat. Aktivitasnya masih dinamis dengan puluhan hingga ratusan guguran setiap hari. Oleh karena itu langkah mitigasi kebencanaan terus kami optimalkan sebelum potensi risiko berkembang ke tingkat Tanggap Darurat jika terjadi kenaikan status," kata Bambang di Sleman, Jumat.

Tingginya aktivitas tersebut ditandai guguran material hingga 120 kali per hari serta luncuran awan panas secara berkala. Kondisi ini mendorong BPBD untuk memastikan seluruh jalur evakuasi dan sistem peringatan dini berfungsi optimal.

Infrastruktur Evakuasi dan 37 EWS Jadi Prioritas Perbaikan

Dalam skema mitigasi struktural, BPBD Sleman memfokuskan perbaikan infrastruktur evakuasi dan peringatan dini. Pelebaran serta perbaikan jalur evakuasi menjadi pekerjaan utama, termasuk pembenahan tebing rawan longsor di sepanjang jalur pengungsian.

Pemantauan kondisi dam sabo yang kerap dilalui moda transportasi berat juga terus dilakukan. BPBD memastikan keandalan sistem peringatan dini yang tersebar di wilayah Sleman.

Saat ini total 37 EWS terpasang, terdiri atas 34 unit di sepanjang lereng Merapi dan tiga unit di Prambanan untuk pemantauan luapan air (overflow). "Kami mengecek, memperbaiki, dan merawat EWS digital, baik berupa sirene suara maupun kamera pengawas (CCTV) di wilayah lereng Merapi hingga di barak-barak pengungsian," ujarnya.

Barak Pengungsian dan Logistik Siaga, Masker Anti-Debu Disiapkan

Kesiapan barak serta pasokan logistik pangan dan non-pangan juga telah disiagakan. Stok masker anti-debu menjadi perhatian khusus mengingat potensi hujan abu saat terjadi erupsi.

BPBD Sleman memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi dapat terpenuhi jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan status.

Edukasi Warga di Tiga Kapanewon dan Sekolah Lereng Merapi

Dari sisi mitigasi non-struktural, BPBD Sleman intensif menggelar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB). Wilayah ini mencakup tiga kapanewon (kecamatan), yakni Turi, Cangkringan, dan Pakem.

Program pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi sekolah di lereng Merapi terus dijalankan. Penguatan kapasitas relawan hingga pembagian tas siaga bencana untuk pengamanan dokumen penting warga saat evakuasi juga dilakukan secara bertahap.

Waspada Kebakaran Vegetasi Akibat Hempasan Material Panas

"Terkait kewaspadaan jangka pendek, BPBD Sleman meningkatkan pengawasan visual terhadap potensi kebakaran vegetasi di lereng atas akibat hempasan material panas Merapi," kata Bambang.

Pihaknya juga melakukan koordinasi berkala dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), serta forum koordinasi lingkar Merapi yang mencakup Kabupaten Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top