Fundamental Lebih Stabil, Ekonomi Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam: Ini Kata BI

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Jumat, 04 September 2026 | 14:31:01 WIB
Inflasi Indonesia terkendali di 3,19 persen, lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencapai 4,5–5 persen.

DI YOGYAKARTA — Perbandingan angka pertumbuhan semata dinilai tidak cukup untuk mengukur ketahanan ekonomi kedua negara. Destry menegaskan karakter dan kompleksitas ekonomi Indonesia berbeda dengan Vietnam, sehingga tidak bisa disamakan secara langsung.

“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya mungkin kalah dari Vietnam, tapi karakter kita beda dengan Vietnam, kompleksitas juga masih beda,” ujarnya di hadapan para ekonom.

Inflasi dan Defisit Jadi Bukti Ketahanan

Indikator stabilitas harga menjadi salah satu pembeda utama. Tingkat inflasi Indonesia tercatat terkendali di level 3,19 persen, sementara inflasi Vietnam berada di kisaran 4,5 persen hingga 5 persen. Pengendalian ini dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro.

Disiplin fiskal juga menjadi pijakan. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada 2025 berada di angka 2,8 persen dan diproyeksikan sedikit melebar ke 2,85 persen pada tahun ini. Realisasi tersebut masih berada dalam batas aman yang ditetapkan pemerintah.

Cadangan Devisa Naik, Modal Asing Masuk

Ketahanan eksternal terlihat dari posisi cadangan devisa yang solid. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia mencapai sekitar 146 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan posisi Juli yang sebesar 145,3 miliar dolar AS.

Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mendorong masuknya modal asing ke pasar keuangan domestik. Sepanjang tahun berjalan, arus modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai kisaran 10 hingga 11 miliar dolar AS.

Pertumbuhan Tetap Jadi Pekerjaan Rumah

Meski fundamental dinilai kuat, Destry menekankan bahwa penguatan struktur ekonomi harus diimbangi dengan akselerasi pertumbuhan. Sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, sektor keuangan, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk mendorong investasi serta produktivitas nasional.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan, pondasi ekonomi dan fiskal yang solid merupakan modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak ekonomi global. “Ekonomi Indonesia terbukti cukup tangguh dan memiliki ketahanan tinggi,” kata Suahasil dalam kesempatan yang sama.

Pernyataan kedua pejabat tersebut muncul di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi negara-negara berkembang. Ketahanan fiskal dan stabilitas harga menjadi bantalan utama agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: tangselpos.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top