YOGYAKARTA — Angka kepadatan penduduk di Kota Yogyakarta yang menembus 12.664 jiwa per kilometer persegi nyatanya tidak mampu menghapus rasa sepi yang dialami banyak mahasiswa. Data BPS Kota Yogyakarta dalam laporan "Kota Yogyakarta Dalam Angka 2025" mencatat jumlah penduduk mencapai 415.605 jiwa pada 2024, dengan Kecamatan Ngampilan sebagai wilayah terpadat mencapai 21.327 jiwa per kilometer persegi.
Kota ini juga menjadi rumah bagi 64.590 mahasiswa pada tahun akademik 2024/2025. Namun, keriuhan kampus dan padatnya kafe tidak otomatis membuat individu merasa terhubung satu sama lain. Kesepian tidak diukur dari jumlah kepala, melainkan dari kualitas relasi yang terbangun.
Penelitian Alya Fauziyyah dan Sutarimah Ampuni yang diterbitkan Jurnal Psikologi UGM Vol. 45 No. 2 tahun 2018 menguji 645 mahasiswa di Yogyakarta menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3. Hasilnya menunjukkan keterampilan sosial yang rendah berkorelasi dengan tingginya tingkat kesepian, dan kesepian menjadi mediator menuju kecenderungan depresi.
Fakta yang mengejutkan muncul dari kelompok mahasiswa tahun kelima dan seterusnya. Mereka memiliki tingkat keterampilan sosial paling rendah serta skor kesepian dan kecenderungan depresi yang lebih tinggi dibanding mahasiswa tahun awal. Semakin lama berada di lingkungan yang penuh orang, bukan jaminan semakin banyak teman yang benar-benar hadir secara emosional.
Skripsi Erika Rahmawati dari Universitas Negeri Yogyakarta pada 2023 melibatkan 387 mahasiswa untuk menguji hubungan kualitas persahabatan dengan kesepian. Hasilnya, kualitas persahabatan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap perasaan sepi dengan sumbangan efektif 10,1 persen.
Temuan ini menegaskan bahwa memiliki banyak kenalan tidak cukup. Yang berperan besar adalah seberapa dalam hubungan itu, apakah ada ruang untuk saling bercerita dan didengar ketika sedang tidak baik-baik saja.
Raissa Pramitha dalam penelitian pada 2019 yang melibatkan 113 mahasiswa perantau di Yogyakarta menemukan korelasi negatif kuat antara kesejahteraan psikologis dan kesepian, dengan koefisien r = -0,655. Artinya, semakin baik kondisi psikologis seseorang, semakin rendah kecenderungannya merasa kesepian.
Sebagian mahasiswa datang dari luar kota tanpa keluarga, tinggal di kamar kos, mengatur keuangan sendiri, dan menghadapi tekanan menjadi dewasa tanpa kehadiran orang tua. Rutinitas kuliah yang padat justru bisa mengisolasi jika tidak diimbangi relasi bermakna.
Yogyakarta menyuguhkan ironi, manusia datang dengan kesibukan masing-masing dan hanya berpapasan tanpa saling mengenal. Duduk bersebelahan di kelas, bertemu di kedai kopi, hingga saling mengikuti di media sosial tidak serta-merta membangun kedekatan yang menyehatkan.
Kemudahan teknologi untuk terhubung justru kerap menggantikan kebutuhan akan kehadiran fisik dan percakapan yang mendalam. Mengetahui aktivitas orang lain lewat unggahan bukan berarti tahu apakah mereka membutuhkan teman untuk diajak berbicara malam ini. Para peneliti menekankan bahwa keterampilan sosial dan relasi yang hangat perlu ditumbuhkan sejak awal masa kuliah. Dukungan kampus, keluarga, dan lingkungan kos menjadi faktor penting untuk mencegah kesepian berkepanjangan yang berisiko menuju depresi.