Koperasi Kampus Jadi Arena Praktik Bisnis di Yogyakarta, Dosen UMY: Bisa Bengkel Kewirausahaan bagi Mahasiswa

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Kamis, 03 September 2026 | 21:33:32 WIB
Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Ahmad Ma'ruf menyampaikan gagasan penguatan koperasi kampus sebagai laboratorium kewirausahaan mahasiswa secara daring, Rabu (2/9).

YOGYAKARTA — Gagasan menghidupkan koperasi di lingkungan kampus dinilai sebagai salah satu cara menjawab tantangan ketenagakerjaan yang kian kompetitif. Konsep yang kerap disebut university co-op ini tidak hanya menyediakan kebutuhan warga kampus, tetapi juga menjadi ruang praktik pengelolaan usaha riil bagi mahasiswa.

Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma’ruf, SE., M.Si., menyebut ekosistem semacam ini masih potensial untuk dikembangkan. Menurut dia, dosen, karyawan, hingga mahasiswa bisa bergabung dalam satu badan hukum koperasi yang berputar di lingkungan kampus.

Menakar Peluang Koperasi di Tengah Gencarnya Program Campuspreneur

Dorongan agar mahasiswa tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja, sejalan dengan kebijakan Kementerian Perdagangan. Pada April 2026, pemerintah meluncurkan Program Campuspreneur yang melibatkan 19 perguruan tinggi untuk mencetak wirausaha muda berorientasi ekspor.

Gairah kewirausahaan ini pula yang coba ditangkap melalui penguatan koperasi kampus. Ma’ruf menuturkan secara daring, Rabu (2/9), bahwa pengembangan usaha harus bertumpu pada kebutuhan aktual warga kampus, bukan sekadar mengikuti tren.

Alternatif Layanan: Food Court Bernutrisi Hingga Skema Bantu Bayar SPP

Ia mencontohkan, koperasi bisa mengelola food court yang menyediakan makanan ringan bergizi dengan harga terjangkau. Model usaha ini dinilai dekat dengan karakter dan kebutuhan mahasiswa sehari-hari.

Lebih dari itu, koperasi juga dapat menjalankan fungsi sosial berupa layanan pembiayaan. Skema ini disebut mampu menjadi penolong bagi mahasiswa yang keluarganya sedang mengalami kendala finansial.

“Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi finansial yang memadai. Dalam situasi seperti itu, saya kira koperasi bisa menjadi salah satu solusi. Misalnya, jangan sampai ada mahasiswa yang harus menunda kuliah karena orang tuanya sedang tidak memiliki kemampuan untuk membayar SPP,” jelas Ma’ruf.

Bukan Toko Biasa, Melainkan Ruang Belajar Manajemen Usaha

Fungsi koperasi kampus disebut tidak berhenti pada jual-beli barang. Ma’ruf menekankan peran strategisnya sebagai laboratorium entrepreneurship yang bisa dimasuki mahasiswa dari lintas program studi.

“Koperasi kampus memang bagian dari ekosistem kampus yang mengembangkan pendidikan sekaligus laboratorium entrepreneur bagi mahasiswa semua jurusan untuk belajar dan mempraktikkan bisnis yang berideologi,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam pengelolaan usaha secara langsung akan memberi pengalaman berharga sebelum mereka bersaing di pasar tenaga kerja. Pembelajaran semacam ini sulit didapat hanya dari bangku kuliah.

Pengalaman KOPMA UNS dan Kunci Keberlanjutan

Praktik serupa sebenarnya sudah berjalan di sejumlah kampus lain. Koperasi Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (KOPMA UNS), misalnya, telah menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkreasi, berinovasi, dan berlatih mengelola unit usaha secara kolektif.

Meski begitu, keberlanjutan lembaga ini dinilai bergantung pada keaktifan para anggotanya. Ma’ruf mengingatkan koperasi harus mampu memberikan manfaat nyata serta menumbuhkan kesadaran bahwa model usaha ini merupakan gerakan ekonomi kebersamaan.

Dengan perencanaan yang matang, koperasi kampus memiliki peluang untuk menjadi simpul yang menghubungkan kebutuhan ekonomi warga kampus dengan misi pendidikan kewirausahaan.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top