DI YOGYAKARTA — Ketua Harian DPP PKB, Najmi Mumtaza Rabbany atau Gus Najmi, angkat bicara menanggapi polemik pernyataan Cak Imin yang viral di media sosial. Ia meminta publik melihat pernyataan tersebut secara utuh dan proporsional, tidak terpotong-potong.
"Beliau sedang mengkritik sebuah kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya," ujar Najmi dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8).
Menurut Najmi, latar belakang organisasi dari figur yang dikritik Cak Imin adalah fakta biografis yang tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai kritik terhadap HMI secara keseluruhan. Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada kekeliruan berpikir.
"Jika setiap kritik terhadap seorang figur otomatis dianggap kritik terhadap organisasinya, maka kita sedang terjebak dalam fallacy berpikir," katanya.
Najmi menambahkan, identitas personal tokoh tersebut bukanlah poin utama. Fokus kritik Cak Imin justru pada kapabilitas dan hasil kepemimpinan di tubuh NU.
Gus Najmi menegaskan bahwa Cak Imin adalah bagian tak terpisahkan dari NU dan tradisi pesantren. Kritik yang dilontarkan lahir dari tanggung jawab moral untuk memperbaiki rumahnya sendiri, bukan untuk menjatuhkan pihak lain.
"Jangan sampai narasi evaluasi kepemimpinan ini dipelintir menjadi adu domba antar-organisasi pergerakan. Perbedaan analisis itu sehat, namun persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda harus tetap yang utama," ujarnya.
Video pernyataan Cak Imin tersebut salah satunya diunggah di akun X mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum. Dalam potongan video yang beredar, Cak Imin menyebut NU mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir.
"Yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira gitulah," kata Cak Imin dalam video yang beredar tersebut.
Pernyataan ini memicu perdebatan di ruang publik, terutama di kalangan kader dan alumni kedua organisasi. Sebagian menilai pernyataan itu terlalu general, sebagian lain menilai wajar sebagai kritik internal.