DI YOGYAKARTA — Penerapan bahan bakar biosolar dengan campuran biodiesel 50 persen atau B50 ternyata tidak menemui hambatan berarti di lapangan. Berdasarkan pemantauan BPH Migas di sejumlah SPBU di Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan, kendaraan pribadi, armada logistik, dan bus tetap melaju normal menggunakan bahan bakar tersebut.
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, bahkan mengaku menerima testimoni positif langsung dari pengguna. Para sopir truk yang semula ragu kini merasa tenang setelah membuktikan sendiri bahwa biofuel tidak merusak mesin kendaraan mereka.
“Dalam perbincangan dengan sejumlah sopir truk dan pengguna mobil pribadi di SPBU-SPBU, yang tadinya khawatir dengan penggunaan biofuel, sekarang tidak lagi. Mereka menyampaikan testimoni langsung bahwa biofuel ini tidak merusak mesin,” kata Fathul dikutip dari laman resmi BPH Migas, Jumat (28/8/2026).
Kendati distribusi berjalan mulus, BPH Migas tidak tinggal diam. Regulator hilir migas ini mendorong badan usaha untuk menambah kapasitas penyimpanan khusus FAME. Sebab, bahan baku biodiesel ini punya karakter yang berbeda dari minyak bumi pada umumnya.
FAME dikenal higroskopis, alias mudah menyerap air atau uap air dari lingkungan sekitar. Jika disimpan terlalu lama di fasilitas yang tidak dirancang khusus, kualitasnya bisa menurun. Karena itu, pengelolaan stok FAME butuh perhatian ekstra.
“Sebetulnya memang Badan Usaha bisa menggunakan fasilitas yang eksisting. Tapi karena sifat FAME yang cenderung higroskopis sehingga mudah menyerap air atau uap air, maka pengelolaannya membutuhkan perhatian khusus, terutama jika disimpan dalam waktu lama,” ujarnya.
Penambahan fasilitas penyimpanan ini bukan sekadar formalitas. BPH Migas menilai infrastruktur tersebut penting untuk menjaga cadangan FAME agar kebutuhan masyarakat terhadap biosolar tetap terpenuhi sepanjang waktu. Keandalan pasokan menjadi kunci agar program B50 yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi tidak tersendat.
“Bagi kami BPH Migas, yang penting adalah memastikan bahwa stok dan distribusi biodiesel hingga menjadi biosolar ini aman dan terkendali bagi masyarakat,” tambah Fathul.
Dorongan ini menjadi sinyal bagi Pertamina dan badan usaha bahan bakar lainnya untuk segera berinvestasi pada infrastruktur pendukung. Pasalnya, dengan keberhasilan B50, bukan tidak mungkin pemerintah akan kembali menaikkan persentase campuran biodiesel pada masa mendatang, yang otomatis menuntut kapasitas penyimpanan FAME lebih besar lagi.