Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi, naik 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.718 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan data inflasi domestik.
JAKARTA — Pergerakan rupiah di pasar spot menunjukkan sentimen positif pada pembukaan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda tercatat di posisi Rp17.718 per dolar AS, menguat tipis dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.744 per dolar AS.
Penguatan 26 poin ini mencerminkan optimisme pelaku pasar yang mulai berani mengambil posisi beli di tengah fluktuasi mata uang global. Namun, pergerakan ini masih rentan terhadap sentimen eksternal, terutama data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini.
Pasar valuta asing domestik masih diselimuti ketidakpastian jelang pengumuman kebijakan moneter The Fed pekan depan. Para pelaku pasar tampak memilih wait and see sambil mencermati data inflasi Indonesia yang dijadwalkan rilis akhir bulan ini.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang cenderung stabil di kisaran 104-105 menjadi penahan laju penguatan rupiah lebih lanjut. Tekanan eksternal ini membuat pergerakan rupiah masih akan didominasi oleh faktor global dibandingkan sentimen dari dalam negeri.
Dengan posisi saat ini, rupiah berada dekat dengan level psikologis Rp17.700 per dolar AS. Para analis menilai apabila level tersebut berhasil ditembus, potensi penguatan menuju Rp17.650 terbuka lebar.
Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas Rp17.700, bukan tidak mungkin rupiah akan kembali tertekan ke kisaran Rp17.750 hingga Rp17.800. Pergerakan ini akan sangat bergantung pada data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa jam ke depan.
Pelaku pasar juga menanti langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi ganda melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dinilai masih diperlukan untuk meredam gejolak.
Sepanjang pekan ini, rupiah tercatat bergerak fluktuatif di rentang Rp17.700 hingga Rp17.760. Kondisi ini sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang juga cenderung melemah terhadap dolar AS akibat tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika.