JOGJA — Perbaikan trotoar di Kota Yogyakarta tidak melulu dikerjakan lewat proyek konstruksi besar. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja memastikan penanganan kerusakan ringan hingga pemasangan guiding block tetap berjalan secara swakelola dengan memanfaatkan tenaga internal dinas.
Kepala DPUPKP Kota Jogja Umi Akhsanti menyampaikan, penataan trotoar pada tahun ini menyasar Jalan Sultan Agung dan kawasan Kotabaru. Pekerjaan dilakukan bertahap karena keterbatasan pelaksanaan di lapangan.
“Untuk tahun ini kami ada penataan di Jalan Sultan Agung sama di kawasan Kotabaru. Memang tahun ini tidak bisa banyak untuk trotoar, bertahap, tapi kami tetap berprogres,” katanya, Jumat (28/8/2026).
Umi menegaskan, guiding block menjadi prioritas yang diupayakan hadir di setiap trotoar yang tengah diperbaiki. Namun, pemasangannya tetap mempertimbangkan ketersediaan ruang untuk aktivitas pejalan kaki.
“Selama ini kalau ada perbaikan langsung sekaligus kita pasang guiding block-nya semua. Kecuali memang lokasinya tidak memungkinkan karena kecil sekali. Kalau bisa untuk jalan kaki, mesti ada guiding block-nya,” ujarnya.
Meski infrastruktur terus dibenahi, pemanfaatan trotoar masih menjadi pekerjaan rumah. Umi mengakui guiding block kerap tertutup aktivitas pedagang, digunakan untuk parkir, atau dijadikan tempat menaruh barang oleh warga.
Kondisi ini dinilai dapat mengganggu fungsi trotoar sekaligus menyulitkan penyandang tunanetra yang sangat bergantung pada jalur pemandu tersebut. Menurut Umi, masih banyak masyarakat yang belum memahami fungsi fasilitas ini dan hanya melihatnya sebagai tegel berwarna kuning.
“Ini bukan hanya pemerintah, tapi PR bersama untuk mengkampanyekan bahwa guiding block itu fungsinya adalah untuk pemandu bagi teman-teman tunanetra. Supaya masyarakat juga tidak seenaknya meletakkan sesuatu di atas guiding block,” jelasnya.
Persoalan lain yang sempat mengganggu adalah kerusakan dan hilangnya material guiding block. Umi mengungkapkan, sekitar 2020 lalu, sejumlah guiding block berbahan aluminium sempat dicuri karena memiliki nilai jual.
Setelah kejadian itu, Pemkot Jogja mengganti seluruh material dengan tegel. Keputusan ini diambil karena tegel dinilai lebih aman dan tidak memiliki nilai jual seperti aluminium.
“Awal-awal kami sempat menggunakan material aluminium, tapi ternyata malah hilang diambil satu-satu untuk dijual. Sekarang kami sudah mengganti material, semua menggunakan tegel. Kalau tegel kan enggak mungkin diambil untuk dijual,” katanya.
Umi mengajak masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas pedestrian yang telah dibangun. Ia menekankan bahwa menjaga fasilitas publik tidak berarti warga harus memperbaiki sendiri, cukup dengan melaporkan kerusakan melalui kanal pengaduan yang tersedia di DPUPKP dan Pemkot Jogja.
Laporan sedini mungkin dinilai krusial untuk mencegah kerusakan meluas. Guiding block yang baru terlepas satu bagian, misalnya, bisa segera diperbaiki sebelum air masuk dan merusak bagian lainnya.
“Kalau baru lepas satu kemudian mereka melapor, kami bisa memperbaiki satu. Kerusakannya tidak semakin parah. Tapi kalau rusak satu tidak ada yang lapor dan kami tidak tahu, nanti kena air, kesandung, akhirnya rusaknya jadi dua, tiga,” pungkasnya.