Wangi 5.0: Mahasiswa Yogyakarta Tak Lagi Pilih Satu Aroma, Parfum Jadi Ekspresi Diri Harian

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 21:36:31 WIB
Mahasiswa Yogyakarta kini memilih parfum berdasarkan suasana hati dan aktivitas harian, bukan sekadar satu aroma khas.

Tren penggunaan parfum di kalangan mahasiswa Yogyakarta bergeser drastis. Aroma kini dipilih berdasarkan suasana hati dan aktivitas, bukan sekadar wewangian untuk acara formal. Fenomena ini mendorong pelaku usaha parfum lokal memperbarui konsep gerainya demi menjawab kebutuhan eksplorasi pelanggan muda.

YOGYAKARTA — Industri wewangian di Kota Yogyakarta tengah beradaptasi dengan perilaku baru konsumen mudanya. Parfum tidak lagi menjadi pelengkap acara tertentu, melainkan kebutuhan harian yang merepresentasikan karakter pemakainya.

Pergeseran ini terlihat jelas dari cara mahasiswa berbelanja. Mereka datang ke gerai parfum dengan referensi yang lebih kompleks ketimbang sekadar mencari aroma favorit.

Mood dan Aktivitas Kampus Menentukan Pilihan Aroma

"Yang berubah bukan hanya aroma yang dicari, tetapi cara pelanggan, khususnya mahasiswa, menjelaskan kebutuhannya. Mereka datang dengan referensi aktivitas, mood, karakter, atau aroma viral di media sosial," kata Senior Scent Advisor Maestro Parfum Seturan, Fajri, Senin.

Fenomena yang disebut "Wangi 5.0" ini menandai berakhirnya era keterikatan pada satu aroma khas atau signature scent. Mahasiswa kini cenderung memiliki beberapa koleksi parfum untuk menyesuaikan diri dengan ruang sosial yang mereka datangi.

Pilihan aroma menjadi fleksibel, mengikuti suasana hati, aktivitas perkuliahan, hingga busana yang dikenakan. Pergeseran ini didukung menjamurnya produk lokal, gerai isi ulang (refill), serta kemasan kecil (tester) yang memudahkan eksperimen tanpa menguras kantong.

Gerai Parfum Seturan hingga Gejayan Ubah Konsep Layanan

Merespons tren ini, Maestro Parfum memperbarui empat gerainya yang tersebar di kawasan Seturan, Gejayan, dan Jalan Magelang. Konsep baru yang diusung adalah ruang eksplorasi aroma yang interaktif dan edukatif bagi pengunjung.

Pembaruan ini bukan sekadar perubahan tampilan fisik gerai, melainkan upaya pelaku usaha memberikan pengalaman mencoba wewangian yang lebih mendalam. Konsumen diajak memahami karakter aroma sebelum memutuskan membeli.

Literasi Produk Jadi Kunci Agar Konsumen Tidak Konsumtif

Tumbuhnya budaya wangi di Yogyakarta dinilai perlu diimbangi dengan literasi produk yang memadai. Para pelaku industri dan kreator konten diharapkan memberikan informasi transparan mengenai performa aroma pada kulit dan cuaca.

Dengan begitu, konsumen dapat bereksplorasi secara bijak tanpa terdorong perilaku konsumtif. Kejelasan informasi menjadi kunci agar tren ini berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti gelombang viral di media sosial.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top