YOGYAKARTA — BPBD DIY memastikan kesiapan penanganan kekeringan di seluruh kabupaten/kota telah dilakukan sejak dini. Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menyebut dampak kekeringan tahun ini diprediksi lebih serius terjadi di tiga wilayah, yakni Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul, dibandingkan Sleman maupun Kota Yogyakarta.
"Dari masing-masing kabupaten di DIY itu sudah siap semua terkait dengan bagaimana mengatasi kekeringan di masyarakat pada puncak kemarau 2026," kata Agustinus, Jumat (21/8/2026).
Agustinus menjelaskan, ketiga daerah yang paling terdampak telah menyiapkan anggaran rutin untuk penanganan kekeringan. Namun, jika kebutuhan di lapangan membengkak, BPBD DIY siap membackup lewat anggaran perubahan di level provinsi.
"Kemudian, nanti kalau mengatasi kekeringan tidak cukup dengan dana belanja tak terduga (BTT), kami juga menyiapkan anggaran di level provinsi nanti dengan anggaran perubahan. Kita sudah siap," ujarnya.
Dropping air bersih ke wilayah terdampak tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD. Menurut Agustinus, instansi teknis lain seperti Dinas Sosial juga memiliki pagu untuk kebutuhan tersebut, sehingga penanganan bisa dilakukan secara kolaboratif.
Di Kabupaten Gunungkidul, penyaluran air bersih terus berjalan meski pagu anggaran semakin menipis. BPBD Gunungkidul mencatat telah menyalurkan 484 tangki air atau total 2,67 juta liter bantuan ke sejumlah kapanewon hingga saat ini.
Bantuan tersebut menjangkau 10 kapanewon meliputi Wonosari, Semin, Girisubo, Rongkop, Tepus, Panggang, Saptosari, Ngawen, Ponjong, dan Purwosari. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, pagu yang tersedia diperkirakan hanya mampu menopang penyaluran hingga pertengahan September mendatang.
"Ini baru bantuan yang disalurkan oleh BPBD. Kalau ditotal bantuan air bersih diberikan mencapai 2,67 juta liter," kata Purwono.
BPBD DIY belum memiliki data rinci sebaran warga yang rawan terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Namun, sebagian besar wilayah yang berpotensi mengalami krisis air berada di daerah perbukitan.
"Potensi kekeringan di Gunung Kidul itu di Rongkop, Gedangsari, Panggang dan Tepus, itu kecamatan yang potensi kekeringannya cukup tinggi," ungkap Agustinus.
Meski anggaran dropping air semakin menipis, Purwono mengaku tidak khawatir. Penyaluran secara mandiri oleh kapanewon masih berlangsung sehingga kebutuhan air bersih warga tetap dapat ditangani. BPBD Gunungkidul berencana mengajukan tambahan anggaran melalui pagu Belanja Tak Terduga (BTT) milik Pemkab Gunungkidul agar distribusi air tidak terhenti hingga musim hujan tiba.