YOGYAKARTA — ASEAN Sports Day (ASD) 2026 di Yogyakarta tidak akan berjalan seperti kompetisi olahraga pada umumnya. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI menegaskan bahwa ajang yang berlangsung pada 31 Agustus-6 September 2026 ini dikemas sebagai festival partisipatif, di mana masyarakat dapat mencoba langsung berbagai aktivitas fisik yang telah disiapkan.
Olahraga tradisional Nusantara menjadi daya tarik utama dalam gelaran yang akan diikuti peserta dari Indonesia, negara-negara ASEAN, serta Timor Leste, Jerman, Mesir, dan Kenya tersebut. Egrang, bakiak, terompah panjang, jemparingan, dan pencak silat akan diperkenalkan berdampingan dengan yoga serta muay thai.
Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenpora RI, Akbar Mia, menjelaskan bahwa ASD 2026 merupakan implementasi amanah forum ASEAN Ministerial Meeting on Sports yang digagas sejak 2016. Fokus utamanya adalah mengaktivasi masyarakat agar rutin berolahraga sambil melestarikan warisan budaya.
"Tujuan utamanya bagaimana mengajak masyarakat sebanyak-banyaknya untuk berolahraga. Jadi kami memang tidak memfokuskan pada prestasi. Kalau ditanya lomba, sebetulnya tidak untuk berlomba, lebih kepada festival," ujar Akbar, Senin (24/8/2026).
Kehadiran olahraga tradisional dinilai menjadi nilai tambah penyelenggaraan ASD di Yogyakarta. Salah satu yang paling menonjol adalah jemparingan, panahan tradisional ala Mataram yang hingga kini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
General Manager Hotel Loman Park, Handono Suyatno Putro, menyebut Yogyakarta memiliki keunggulan tersendiri karena ekosistem olahraga masyarakatnya ditopang oleh keberadaan kampus dan komunitas anak muda yang aktif.
"Jogja itu kelebihannya sangat kental dengan nuansa tradisional. Salah satunya kami punya jemparingan, olahraga tradisional panahan ala Mataram," kata Handono.
Kemenpora menaruh perhatian serius pada penurunan aktivitas fisik yang terjadi setelah seseorang lulus dari bangku sekolah menengah. Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora RI, Yayat Suyatna, mengungkapkan bahwa tren ini juga terjadi pada kalangan mahasiswa.
"Begitu lulus SMA itu turun drastis. Mahasiswa ini turun juga, kurang begitu aktif aktivitas gerak olahraganya," kata Yayat.
Oleh karena itu, Kemenpora menggandeng kampus dan komunitas pemuda dalam penyelenggaraan ASD 2026. Keberhasilan program ini, menurut Yayat, justru baru bisa diukur setelah rangkaian acara usai, bukan saat festival berlangsung.
"Keberhasilan ASD itu nanti bisa dilihat bukan ketika event-nya saja, tetapi pasca-event-nya. Apakah masyarakat semakin rutin bergerak aktif berolahraga atau tidak," ujarnya.
ASD 2026 digelar serentak di seluruh negara anggota ASEAN. Laporan pelaksanaan dari tuan rumah nantinya akan dibawa ke pertemuan tingkat menteri maupun deputi ASEAN sebagai bagian dari ASEAN Work Plan on Sport 2021-2025.
Dalam kerangka tersebut, olahraga ditempatkan sebagai instrumen membangun solidaritas, kebersamaan, dan diplomasi antarbangsa. Bagi Indonesia, penyelenggaraan di Yogyakarta sekaligus menjadi ajang menunjukkan wajah olahraga masyarakat yang berakar pada tradisi lokal.