DI YOGYAKARTA — Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, menyatakan prospek ekonomi daerah pada 2026 tetap positif. Dalam pernyataannya, Selasa (28/7/2026), ia menyebut tiga motor utama pertumbuhan adalah konsumsi swasta yang membaik, investasi yang meningkat, dan ekspor yang diperkirakan semakin kuat.
"Penguatan konsumsi masyarakat, peningkatan investasi, dan membaiknya kinerja ekspor menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika perekonomian global," ujar Rifki.
Dari sisi penawaran, sektor perdagangan dan industri pengolahan diproyeksikan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2025. Kenaikan ini sejalan dengan prospek konsumsi masyarakat dan aktivitas investasi di berbagai sektor.
Rifki menambahkan, kondisi eksternal yang relatif kondusif membuka peluang bagi Jatim untuk memperkuat kinerja ekonomi. Membaiknya perekonomian sejumlah negara mitra dagang strategis diperkirakan meningkatkan permintaan produk ekspor Jatim sekaligus mendorong investasi, khususnya investasi nonbangunan.
Sektor konstruksi diprediksi kembali tumbuh lebih kuat pada 2026. BI menyebut hal ini didorong oleh berlanjutnya pembangunan infrastruktur pemerintah dan swasta, percepatan pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK), serta realisasi penuh program strategis pemerintah yang disiapkan sejak 2025.
"Berlanjutnya proyek-proyek strategis tersebut diharapkan memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi, meningkatkan investasi, serta membuka lebih banyak lapangan kerja di Jawa Timur," kata Rifki.
BI memperkirakan inflasi Jatim sepanjang 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional 2,5% ±1% (yoy). Stabilitas harga didukung oleh ketersediaan pasokan komoditas pangan strategis seperti beras, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Cuaca yang diprakirakan kondusif akan mendukung peningkatan produksi.
Penguatan ketahanan pangan juga didorong melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). "Sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)," jelas Rifki.
Bank Indonesia menegaskan akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, mendorong investasi, memperkuat daya saing ekspor, dan mengendalikan inflasi. "Kami optimistis perekonomian Jawa Timur pada tahun 2026 akan tumbuh semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.