YOGYAKARTA — Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusi terhadap pengembangan ideologi Pancasila. Menurutnya, pendekatan keilmuan yang menjadi identitas kampus harus menjadi fondasi utama dalam proses tersebut.
"Nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan sebagai landasan etik yang membentuk cara berpikir, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menyelesaikan persoalan masyarakat," kata Noorhaidi dalam sambutannya di pembukaan simposium.
Ketua Panitia Simposium, Prof Eva Latipah, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi saat ini bukan lagi pada kemampuan mahasiswa menghafal lima sila. Persoalannya justru terletak pada bagaimana nilai-nilai itu diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun praktik profesional.
"Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu," ujar Eva yang juga menjabat Direktur Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) UIN Sunan Kalijaga.
Eva menambahkan, Pendidikan Pancasila harus bergeser dari pendekatan normatif menuju pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan nyata di berbagai bidang. Mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan, semuanya harus menjadi ranah implementasi nilai-nilai dasar bangsa.
Pihaknya terus mengembangkan paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif. Paradigma ini mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan yang utuh.
Kepala BPIP, Prof Yudian Wahyudi, memberikan perspektif lebih luas. Ia mengatakan bahwa kemunduran suatu bangsa terjadi ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dipisahkan dari nilai-nilai agama. Sebaliknya, kemajuan hanya dapat dicapai melalui integrasi antara penguasaan sains, riset, dan moralitas.
Yudian mencontohkan sejarah peradaban Islam di Andalusia yang mengalami kemunduran ketika tradisi keilmuan eksperimental dan teknologi ditinggalkan. Menurutnya, hal ini harus menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa melepaskan fondasi nilai-nilai Pancasila dan agama.
"Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban," tegas Yudian.
BPIP berharap, UIN Sunan Kalijaga yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga sains, teknologi, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat, dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai bangsa maju di masa depan.