YOGYAKARTA — Sandjivvane Integrative Support menghadirkan pendidikan inklusi di Yogyakarta melalui program seni dan lokakarya. Komunitas yang baru berdiri pada 2024 ini menyasar anak-anak usia dini hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta para guru dan orang tua.
Direktur Program Sandjivvane Integrative Support, Assabti N. H. M., mengatakan komunitas ini lahir dari keprihatinan terhadap perubahan orientasi pendidikan dan seni. “Kita pengen membawa spirit bahwa hal-hal yang sekarang sudah banyak berubah dengan berbagai kepentingan, termasuk pendidikan dan seni, itu bisa kita kembalikan lagi ke fitrahnya,” ujarnya.
Salah satu program reguler yang berjalan adalah Art Club, digelar setiap Jumat dan Minggu. Kegiatan ini terdiri dari kelas creative dance dengan kapasitas maksimal 12 anak, serta kelas seni rupa yang diikuti hingga 10 anak.
“Untuk yang rutin di hari Jumat dan Minggu, per kelas kita maksimal 12 anak. Ada 12 anak di creative dance dan 10 anak yang aktif di seni rupa,” ungkap Assabti. Kelas ini dirancang untuk jenjang usia dini sampai SMP, memastikan setiap anak mendapat perhatian yang cukup.
Sandjivvane tidak hanya fokus pada anak. Komunitas ini bekerja sama dengan sejumlah sekolah melalui lokakarya bagi guru dan tenaga pendidik. Program ini bertujuan memperkuat penerapan pendidikan inklusi di lingkungan sekolah formal.
Sora, Tim Pengembang Sandjivvane Integrative Support, menjelaskan bahwa dasar pendidikan inklusi adalah kesetaraan. “Kita tidak memandang siapa pun bisa lebih atau kurang dengan gaya belajar mereka yang berbeda-beda,” tuturnya. Lokakarya ini menekankan keterlibatan setiap peserta didik tanpa membedakan gaya belajar.
Di luar program reguler, Sandjivvane mengembangkan kegiatan insidental. Salah satunya adalah Listenal yang digelar selama Ramadan dengan sasaran generasi Z dan milenial. Untuk kegiatan yang memerlukan pendampingan khusus, komunitas ini melibatkan psikolog dan mitra profesional.
“Untuk kerja-kerja yang sesinya agak berat, kita tidak berani sendiri, kita selalu mengajak mitra profesional. Kita ada psikolog di Sandjivvane yang mendampingi dan nge-backup kita,” ujar Assabti.
Assabti menegaskan bahwa setiap program disusun berdasarkan riset kebutuhan peserta. Program kolaborasi dengan pihak luar biasanya berlangsung minimal satu bulan. Sementara program yang dikembangkan secara mandiri bisa berjalan selama tiga hingga enam bulan.
“Kalau kolaborasi, biasanya minimal satu bulan. Tapi kalau dari aktivitas kita sendiri, itu bisa tiga sampai enam bulan karena kita riset dulu sebelum menentukan apa yang dibutuhkan,” cetusnya. Pendekatan ini memastikan setiap kegiatan benar-benar relevan dengan kebutuhan anak dan tenaga pendidik di Yogyakarta.