YOGYAKARTA — Sebanyak 300 bibit pohon nangka dan gayam ditanam di bantaran Sungai Gajahwong setelah prosesi pelantikan pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta. Aksi ekologi ini merupakan bagian dari gerakan “Jogja Nandur” yang sebelumnya dicanangkan Sekjen DPP Hasto Kristiyanto di Embung Giwangan. Ketua DPC Eko Suwanto mengatakan pemilihan lokasi di tepi sungai bukan sekadar gimmick, melainkan respons atas kondisi kritis lahan pertanian di kota ini.
“Dari total lahan sekitar 32 ribu hektar, kategori lahan pertaniannya hanya tersisa sekitar 16 hektar. Ini masalah yang sangat serius berkaitan dengan kualitas udara dan air kita. Maka, pelantikan di tepi sungai ini adalah lambang komitmen kita bersama untuk merawat sungai dan memperbaiki lingkungan,” ujar Eko yang juga Ketua Komisi A DPRD DIY.
Tak hanya penghijauan, rangkaian acara juga diwarnai simulasi penyelamatan korban kecelakaan sungai. Para relawan Bagunan langsung menceburkan diri ke aliran Kali Gajahwong memperagakan teknik evakuasi. Eko menyebut Kota Yogyakarta memiliki 14 potensi ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi Gunung Merapi di utara, hingga megathrust di selatan.
“Maka kami membentuk organisasi Baguna. Tadi pagi teman-teman berlatih basah-basahan simulasi penyelamatan korban di sungai. Ini respons kita agar kader siap diterjunkan kapan saja membantu masyarakat saat terjadi darurat bencana,” tegas Eko.
Hal menarik lain dari pelantikan ini adalah keterlibatan generasi muda dalam kepengurusan. Eko menilai Gen Z di Kota Yogyakarta cerdas, kritis, dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Ia mencontohkan kepedulian mereka terhadap masalah sampah, kejahatan jalanan, dan ruang publik seperti co-working space.
“Gen Z hari ini luar biasa, mereka peduli pada penyelesaian masalah sampah, bebas kejahatan jalanan, hingga ruang-ruang publik seperti co-working space untuk berproduksi. PDI Perjuangan mengapresiasi kepercayaan anak-anak muda ini. Ke depan kita siapkan pelatihan media sosial hingga gerakan lingkungan hidup bersama mereka,” terangnya.
Target dua bulan ke depan, konsolidasi struktur ranting dan anak ranting berbasis RW di seluruh Kota Yogyakarta dituntaskan. Eko menekankan bahwa fokus utama jajaran pengurus akar rumput adalah menghadirkan gerakan yang berdampak langsung pada kebutuhan masyarakat.
“Tujuannya satu, melayani, memberdayakan, dan melindungi semua kalangan warga masyarakat menuju Kota Yogyakarta yang sehat dan bahagia,” pungkas Eko.