JAKARTA — Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai peluang IHSG melanjutkan penguatan masih terbuka. Syaratnya, indeks mampu bertahan di atas area support 6.284-6.260. Target selanjutnya adalah menguji resistance di level 6.377.
Jika berhasil breakout dan bertahan di atas level tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.398-6.459. Sebaliknya, jika kembali gagal menembus resistance, IHSG berpotensi mengalami pullback sehat dengan support terdekat di 6.284-6.260, kemudian 6.231.
Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung berhati-hati. Fokus utama investor tertuju pada panduan belanja modal (capex) Alphabet, setelah perusahaan itu sebelumnya mengalokasikan belanja AI sebesar 180–190 miliar dolar AS pada 2026. Sejumlah analis memperkirakan capex tersebut dapat meningkat hingga 190–200 miliar dolar AS seiring tingginya permintaan AI dan kenaikan harga chip memori.
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai besarnya investasi AI dan ketidakpastian waktu pengembalian modal masih membayangi pasar. Akibatnya, saham-saham semikonduktor yang sebelumnya memimpin reli mengalami koreksi tajam lebih dari 20 persen dari puncaknya.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran jika terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Iran merespons dengan ancaman membalas terhadap fasilitas energi dan infrastruktur yang memiliki kepentingan AS di kawasan.
Kondisi itu memperburuk gangguan distribusi energi global. Ancaman juga meluas ke jalur pelayaran Laut Merah melalui Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Meski demikian, upaya diplomasi masih terus berlangsung dengan adanya usulan gencatan senjata selama 10 hari melalui mediator internasional.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. BI memilih memperkuat insentif investasi portofolio asing dibandingkan menaikkan suku bunga. Langkah ini dinilai lebih efektif menjaga stabilitas rupiah tanpa meningkatkan biaya pendanaan domestik di tengah ketidakpastian global.
BI juga memperluas berbagai insentif untuk menarik arus modal asing. Di antaranya menaikkan insentif Swap Jual Lindung Nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen, memperluas insentif DNDF Jual Lindung Nilai menjadi 15 persen, serta memberikan tambahan insentif untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT).
Pada perdagangan Rabu (22/7) kemarin, bursa Eropa kompak menguat. Euro Stoxx 50 menguat 0,57 persen, FTSE 100 Inggris menguat 1,24 persen, DAX Jerman menguat 0,58 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,89 persen.
Sementara itu, bursa Wall Street di AS kompak melemah pada Selasa-Rabu (22/07). Indeks S&P 500 melemah 0,10 persen ke level 7.499,73, Nasdaq Composite melemah 0,60 persen ke 25.690,90, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,01 persen ke 52.218,58.
Bursa saham regional Asia pagi ini kompak menguat. Indeks Nikkei menguat 0,56 persen ke 66.485,00, Shanghai menguat 0,02 persen ke 3.867,88, Hang Seng menguat 1,16 persen ke 25.180,72, Kospi menguat 2,18 persen ke 6.945,54, dan Shenzen menguat 0,18 persen ke 14.080,36.