BANTUL — Musim kemarau 2026 membawa konsekuensi serius bagi Kabupaten Bantul. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul menunjukkan lonjakan signifikan kasus kebakaran lahan yang mayoritas dipicu aktivitas manusia. Hingga 22 Juli 2026, dari 30 kejadian kebakaran yang ditangani, lebih dari separuhnya—tepatnya 17 kejadian—adalah kebakaran lahan.
"Paling banyak penyebabnya karena membakar sampah dan barang bekas," kata Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan, Kamis (23/7/2026).
Rangkaian kejadian terbaru menunjukkan betapa tingginya risiko selama cuaca kering. Pada Senin malam (20/7), lahan bekas tebangan pohon jati di Sidomulyo, Bambanglipuro, terbakar. Keesokan harinya, api membakar rumpun bambu di Sumbermulyo, Bambanglipuro.
Kejadian paling anyar terjadi pada Rabu siang (22/7) di Srimartani, Piyungan. Lahan kosong seluas sekitar 2.000 meter persegi hangus terbakar. "Yang terakhir itu Rabu siang lahan kosong seluas 2.000 meter persegi terbakar di Srimartani, Piyungan," ujar Kristanto.
Data BPBD mencatat selama Juni 2026, total 32 kejadian kebakaran terjadi di Bantul. Rinciannya terdiri dari tujuh kebakaran rumah, delapan kebakaran lahan, lima kebakaran bangunan, 10 kebakaran tumpukan sampah, serta satu kejadian pada jaringan listrik dan tempat usaha. Memasuki Juli, trennya justru meningkat drastis pada satu jenis kejadian: lahan.
Kepala BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menjelaskan bahwa kondisi vegetasi dan tanah yang kering membuat api kecil sekalipun bisa berkembang cepat. "Ada juga warga yang kadang dengan sengaja membakar lahan untuk pembersihan, tapi tidak dijaga sehingga api membesar," katanya.
Praktik membakar lahan untuk pembersihan masih lazim di Bantul, terutama di Kapanewon Pundong dan Imogiri yang tercatat sebagai wilayah rawan. Sebagian warga meyakini sisa pembakaran bisa menjadi pupuk alami. Namun, minimnya pengawasan saat proses pembakaran kerap berujung petaka.
"Yang juga paling penting itu harus dijaga, jangan dibakar trus ditinggal," ungkap Mujahid.
BPBD Bantul tidak tinggal diam. Ke depan, mereka berencana memperkuat edukasi tentang tata cara pembakaran yang aman. Salah satu langkah konkret yang ditawarkan adalah pendampingan langsung oleh petugas.
"Ke depannya akan kami coba edukasi dan berikan pendampingan. Atau kalau memang membutuhkan bisa memanggil petugas kami untuk membakar lahannya, agar aman," pungkas Mujahid.
Langkah ini dinilai krusial mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung beberapa pekan ke depan, meningkatkan risiko kebakaran di titik-titik rawan lainnya.