DI YOGYAKARTA — Pertandingan nanti bukan sekadar laga perebutan trofi. Argentina berpeluang menjadi tim ketiga sepanjang sejarah yang sukses memenangi Piala Dunia secara beruntun, setelah Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962). Jika berhasil menaklukkan Spanyol, skuad asuhan Lionel Scaloni akan mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepak bola.
Penampilan di partai final nanti akan menjadi yang ke-34 bagi Messi di ajang Piala Dunia. Catatan itu sudah menjadikannya pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang masa. Ia juga hanya berjarak satu gol dari Kylian Mbappe dalam perburuan gelar pencetak gol terbanyak turnamen.
Yang lebih mencengangkan, 15 dari total 21 gol Messi di Piala Dunia lahir setelah usianya menginjak 35 tahun. "Dia adalah sejarah, legenda. Saya merasa bangga, dia adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah dilihat dunia," ujar pelatih Scaloni, memuji anak asuhnya.
Pengamat sepak bola Spanyol, Guillem Balague, menilai publik belum akan melihat Messi gantung sepatu dari timnas. "Bahkan jika Anda mendengar ini adalah akhir, saya meragukannya. Saya melihat dia masih bersama tim nasional, sederhananya karena dia menikmatinya," kata Balague.
Messi sendiri pernah menyiratkan bahwa final Piala Dunia 2022 di Qatar akan menjadi laga pamungkasnya. Namun pernyataan itu terbukti keliru karena ia tetap membela Argentina di edisi 2026. Scaloni mengaku tak tahu apakah final kali ini jadi yang terakhir bagi Messi. "Anda harus tanya dia. Kami belum membahasnya," kata Scaloni.
Jika Messi bertahan hingga 2030, ia akan menjadi pemain tertua di turnamen pada usia 43 tahun. Faktor lain yang bisa membuatnya bertahan adalah Piala Dunia 2030 yang akan digelar di enam negara, termasuk Argentina. Pertandingan pembuka di kandang sendiri bisa menjadi daya tarik yang sulit ditolak.
Balague menambahkan, "Saya tidak melihat dia di Inter Miami di MLS, masih tampil dan kemudian mengatakan sudah cukup. Gairahnya masih ada. Semua itu berarti dia tidak akan meninggalkan tim nasional."