Sampah 1.000 Ton per Hari dari Jogja, Sleman, dan Bantul Bakal Diolah Jadi Listrik 30 MW, Pertamina Bangun PSEL

Penulis: Edi Wahyono  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 11:01:02 WIB
Pertamina resmi ditugaskan mengelola proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di kawasan Kartamantul dengan kapasitas 30 MW.

YOGYAKARTA — Tiga daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) segera memiliki solusi permanen untuk darurat sampah yang kerap melanda. PT Pertamina (Persero) resmi ditugaskan mengelola proyek PSEL di kawasan Kartamantul—akronim dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul—yang selama ini menjadi penyumbang sampah terbesar ke TPST Piyungan.

Kapasitas 30 MW, Setara Kebutuhan Listrik Ribuan Rumah

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengungkapkan bahwa volume sampah dari tiga daerah itu mencapai lebih dari 1.000 ton per hari. “Pertamina diberikan tugas terpilih untuk menangani Yogyakarta, tiga daerah yang kita sebut Kartamantul, yaitu Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, dengan volume sampah lebih dari 1.000 ton per hari,” kata Agung dalam acara Waste to Energy Talks di Jakarta, Kamis (16/7).

Dari jumlah tersebut, PSEL Kartamantul diproyeksikan mampu menghasilkan listrik sebesar 30 MW. Kapasitas ini setara dengan kebutuhan listrik untuk ribuan rumah tangga dan akan disalurkan melalui jaringan milik PLN.

Insinerator: Teknologi yang Dipilih untuk Menekan Timbunan dan Emisi

Pertamina memilih teknologi insinerator sebagai metode utama pengolahan sampah. Agung menjelaskan, teknologi ini dinilai paling siap untuk menyerap sampah dalam jumlah besar secara maksimal sekaligus mengendalikan emisi gas buang, termasuk dioksin.

“Insinerator ini yang sejauh ini paling siap untuk menyerap semaksimal mungkin sampah, kemudian mengolahnya menjadi listrik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengendalian emisi menjadi prioritas agar penyelesaian masalah sampah tidak menimbulkan polusi udara baru. “Teknologi insinerator ini memiliki kapasitas untuk menanganinya, karena dengan teknologi tersebut kita bisa memastikan penanganan masalah sampah tidak berubah dari timbunan sampah menjadi masalah yang ada di udara,” ucap dia.

Harapan Baru bagi TPST Piyungan yang Kerap Kewalahan

Selama ini, TPST Piyungan di Bantul menjadi satu-satunya tempat pembuangan akhir bagi sampah dari tiga wilayah Kartamantul. Fasilitas tersebut beberapa kali harus ditutup karena kelebihan kapasitas, seperti yang terjadi pada Jumat (29/3) lalu saat TPST kembali dibuka setelah sebelumnya ditutup. Kehadiran PSEL diharapkan mampu mengurangi beban TPST secara signifikan.

Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi bersih sekaligus menyelesaikan persoalan klasik perkotaan: sampah yang terus menggunung. Jika berjalan sesuai rencana, sampah yang selama ini menjadi masalah justru akan berubah menjadi sumber energi listrik bagi warga Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top