DI YOGYAKARTA — Pemerintah diminta tidak hanya menahan kenaikan tarif listrik, tetapi juga menghadirkan stimulus baru yang berdampak langsung ke masyarakat. Kadin menilai kebijakan diskon tarif listrik dan penambahan bansos menjadi instrumen yang paling efektif untuk mengerek daya beli pada kuartal III dan IV 2026.
Fakhrul Fulvian menekankan bahwa tekanan daya beli tidak hanya dialami kelompok miskin, tetapi juga kelas menengah. Menurutnya, bansos yang diperbesar volumenya akan menyasar kelompok rentan, sementara diskon listrik bisa dirasakan seluruh lapisan.
"Saya memberi saran di kuartal tiga dan kuartal empat ini sebaiknya berilah bansos dalam jumlah yang besar," ujar Fakhrul ditemui di Menara Kadin, Jakarta Selatan.
Ia menambahkan, kebijakan diskon tarif listrik punya keunggulan karena tidak perlu verifikasi data penerima yang rumit. "Semuanya dapat berbagai kalangan dan itu akan sangat membantu daya beli," kata dia.
Usulan ini muncul di saat pemerintah tengah melakukan konsolidasi fiskal. Istana sebelumnya mengungkapkan bahwa tarif listrik seharusnya naik, namun ditahan demi menjaga daya beli masyarakat. Kadin menilai situasi ini membutuhkan intervensi lebih agresif.
Fakhrul menjelaskan, peningkatan belanja masyarakat perlu didorong secara langsung agar tidak terjadi kontraksi konsumsi yang lebih dalam. Tanpa stimulus tambahan, risiko gelombang PHK yang sudah mengancam sektor padat karya bisa semakin membebani perekonomian.
Dalam kesempatan terpisah, Partai Perindo mendorong proteksi terhadap industri padat karya yang terancam gelombang pemutusan hubungan kerja. Kondisi itu dinilai saling terkait dengan melemahnya daya beli masyarakat.
Kadin menilai bahwa kombinasi bansos besar-besaran dan diskon listrik bisa menjadi bantalan sosial yang efektif. Kedua kebijakan itu dinilai lebih cepat berdampak dibandingkan stimulus fiskal lain yang membutuhkan waktu panjang untuk dirasakan masyarakat.
Pemerintah sendiri sebelumnya telah menggelontorkan stimulus Rp26,34 triliun atas arahan Presiden Prabowo untuk menjaga daya beli. Namun, Kadin menilai angka itu perlu ditambah seiring meningkatnya tekanan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.