Komunitas Jogja Mendongeng Aktif Keliling Sekolah, Dongeng Bukan Sekadar Pengantar Tidur Tapi Media Edukasi dan Healing

Penulis: Dedi Supriadi  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 13:31:42 WIB
Komunitas Jogja Mendongeng aktif keliling sekolah sebagai media edukasi dan healing bagi anak-anak.

YOGYAKARTA — Aktivitas mendongeng di Yogyakarta tak pernah sepi peminat. Komunitas Jogja Mendongeng menjadi salah satu motor penggerak yang membuktikan bahwa dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan alat penyampaian edukasi yang efektif untuk anak-anak usia SD hingga SMP.

Dari Podcast ke Panggung: Perjalanan Jogja Mendongeng

Kak Diaz, pendongeng yang aktif di komunitas tersebut, menceritakan perjalanan Jogja Mendongeng yang berawal dari konten digital. “Waktu itu mulai bergerak lewat podcast dan YouTube di tahun 2019, turun langsung di tahun 2022 dengan menyelenggarakan pagelaran mendongeng,” ujarnya dalam acara Star Playground – Bukan Sekedar Cerita Dongeng Sebagai Media Edukasi dan Healing pada Juni lalu.

Semangat mereka jelas: melestarikan budaya tutur sekaligus menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin belajar mendongeng. Prinsipnya, semua orang bisa mendongeng.

Strategi Khusus: Bahasa Lokal dan Gimik Tren Terkini

Tantangan terbesar seorang pendongeng, menurut Diaz, adalah kemampuan membaca penonton. Ia pernah mengalami anak yang sudah hafal alur cerita yang akan disampaikan. “Saya harus cepat mengubah arah dengan mengambil sudut pandang atau perspektif lain,” cetus Diaz.

Sebelum pentas, Jogja Mendongeng selalu mempelajari konteks budaya, usia, dan karakteristik penonton di setiap daerah. Penyesuaian dilakukan lewat pilihan bahasa. “Kalau di sana menggunakan bahasa lokal misalnya bahasa Jawa, saya akan menyelipkan itu agar sesuai dengan humor mereka. Tapi kalau di luar bahasa Jawa, saya akan menggunakan bahasa Indonesia dan menarik gimik-gimik yang terkait dengan tren sekarang,” jelas Diaz.

Antusiasme Anak Masih Tinggi, Mendongeng Tak Kenal Batas

Meski hidup di era digital, Diaz menilai antusiasme anak-anak terhadap kegiatan mendongeng masih tinggi. Kuncinya, komunitas menyediakan variasi cerita yang beragam agar anak-anak tetap tertarik dan mendapat pengalaman berbeda setiap kali mendengarkan.

“Menurut saya, mendongeng itu tidak bisa ditarget dan tidak ada batasan,” ucap Diaz.

Modal Jadi Pendongeng: Ekspresi, Suara, dan Properti

Diaz mengungkapkan, menjadi pendongeng tidak mudah. Seorang pendongeng harus memperhatikan ekspresi, suara, kejelasan artikulasi, durasi, hingga properti pendukung. “Mengubah suara bisa menghidupkan suasana dan jiwa di dalam dongeng,” tambahnya.

Perkembangan seni mendongeng di Yogyakarta dinilai masih sangat baik. Berbagai komunitas aktif berkegiatan dengan dukungan banyak pihak, menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu tempat yang tepat untuk mempelajari seni mendongeng.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top