KULON PROGO — Sejumlah padukuhan di Kabupaten Kulon Progo mulai mengeluhkan berkurangnya pasokan air akibat cuaca ekstrem. Kondisi itu membuat DPRD setempat mendesak Pemkab Kulon Progo bergerak cepat melakukan mitigasi sebelum dampaknya meluas ke sektor pertanian.
Wakil Ketua I DPRD Kulon Progo Lajiyo Yok Mulyono menilai kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam merespons dinamika lingkungan dan ekonomi menjadi kunci utama kesejahteraan warga. Menurut dia, ancaman kekeringan harus diantisipasi melalui perencanaan yang matang.
Kekeringan Mulai Melanda Sejumlah Padukuhan
Lajiyo menyebut fenomena El Nino ekstrem sudah mulai berdampak nyata di lapangan. Beberapa padukuhan di Kulon Progo melaporkan pasokan air yang terus berkurang.
"Ancaman kekeringan tersebut, berpotensi mengganggu aktivitas pertanian warga jika tidak diantisipasi sejak dini melalui perencanaan yang matang supaya tidak berdampak pada ketahanan pangan," katanya.
Dampak itu membuat DPRD mendesak Pemkab Kulon Progo meminimalkan potensi kerugian di sektor pertanian. Lajiyo menegaskan ketahanan pangan menjadi tantangan utama yang harus dijawab pemerintah daerah.
"Tantangan ke depan yang pertama adalah bagaimana kita menjaga ketahanan pangan. Dengan adanya fenomena El Nino ekstrem, beberapa padukuhan sudah mengalami kekeringan. Bagaimana lahan-lahan yang ada bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat," kata Lajiyo.
Lahan Tidur Diminta Difungsikan Kembali
Salah satu solusi konkret yang diusulkan DPRD adalah percepatan pemanfaatan lahan produktif secara maksimal. Lahan tidur maupun area pertanian yang ada diimbau difungsikan efektif agar ketersediaan komoditas pangan daerah tetap aman.
Selain soal lahan, DPRD menyoroti pentingnya regenerasi petani. Generasi muda atau petani milenial didorong lebih aktif menggarap tanaman hortikultura yang punya nilai jual tinggi di pasaran.
Lajiyo menilai tanaman hortikultura seperti buah-buahan dan sayuran komersial memiliki prospek ekonomi menjanjikan bagi peningkatan pendapatan daerah. Regenerasi dinilai krusial untuk mencegah krisis tenaga kerja di sektor pertanian pada masa mendatang.
"Jangan sampai petani di Kulon Progo hilang, tapi sektor pertanian harus menciptakan lapangan pekerjaan yang menjanjikan," tegasnya.
Modernisasi Alsintan hingga Skema Permodalan Khusus
Untuk menarik minat generasi muda, Pemkab Kulon Progo diminta tidak ragu memodernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan). Penggunaan teknologi modern dipandang bisa mengubah citra pertanian dari sektor yang identik dengan kerja fisik berat menjadi usaha yang efisien.
Pelatihan berkelanjutan dan pendampingan intensif bagi petani milenial juga disebut sebagai syarat mutlak. Lingkup pendampingan mencakup penguasaan teknik budi daya terkini, manajemen usaha tani, hingga strategi pemasaran hasil panen.
"Pendampingan tersebut mencakup penguasaan teknik budi daya terkini, manajemen usaha tani, hingga strategi pemasaran hasil panen yang efektif," katanya.
Lajiyo juga mengusulkan skema dukungan permodalan yang mudah diakses petani muda. Jika perlu, pemerintah daerah dapat menghadirkan fasilitas simpan pinjam khusus untuk memberi kemudahan akses modal usaha bertani.
"Melalui sinergi antara modernisasi, pendampingan, dan kemudahan modal, sektor pertanian di Kulon Progo akan mampu menjadi pilar utama ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi warga," katanya.