DI YOGYAKARTA — Rupiah menembus level Rp18.012 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9), sebelum ditutup melemah ke Rp17.981. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$108 per barel dan kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026. Pelemahan ini berpotensi merambat ke harga pangan, obat-obatan, hingga cicilan kredit rumah tangga.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menyatakan pelemahan rupiah dipicu berlanjutnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Harga minyak dunia yang menembus US$108 per barel memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat.
"Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).
Selain faktor eksternal, kebutuhan valuta asing importir menjelang tutup kuartal III 2026 dan arus keluar dana dari portofolio aset negara berkembang turut menekan rupiah. Kenaikan yield obligasi global memperbesar tekanan jual di pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Impor Bahan Baku Rp116,7 Miliar Jadi Jalur Transmisi ke Harga Domestik
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan dampak paling langsung dari rupiah yang bertahan di Rp18 ribu adalah kenaikan biaya barang yang bergantung pada dolar AS. Bukan hanya produk jadi impor, tetapi juga barang domestik yang produksinya memakai komponen luar negeri.
Data Badan Pusat Statistik Januari-Juli 2026 menunjukkan impor bahan baku dan bahan penolong mencapai US$116,7 miliar dari total impor US$163,3 miliar, atau 71,45 persen dari keseluruhan impor. Angka itu menjelaskan mengapa depresiasi rupiah cepat merambat ke biaya produksi dalam negeri.
Jalur transmisinya lewat bahan kimia, komponen elektronik, plastik dan kemasan, bahan farmasi, mesin dan suku cadang, serta bahan produksi manufaktur lain. Kenaikan harga gandum dan kedelai langsung mendorong harga mie, roti, tahu, dan tempe. Pakan ternak yang mahal berimbas ke harga ayam dan telur.
"Ini pula yang menjelaskan mengapa depresiasi rupiah tidak hanya menaikkan harga barang impor yang terlihat di toko, tetapi juga dapat meningkatkan biaya barang yang diproduksi di Indonesia," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/9).
"Masyarakat tidak harus membeli barang impor secara langsung untuk terkena dampak pelemahan rupiah," tambahnya.
Barang yang Perlu Diawasi Ketat
Josua menyebut sejumlah kategori yang paling rentan terhadap pelemahan kurs:
- Produk berbasis gandum dan kedelai
- Pakan ternak
- Obat-obatan dan produk kesehatan
- Elektronik
- Kendaraan dan suku cadang
- Biaya transportasi dan logistik
Efek domino berlanjut ke margin perusahaan. Beban biaya membengkak, perusahaan menaikkan harga jual atau memangkas margin. Inflasi pun naik, pendapatan riil masyarakat merosot, dan daya beli tertekan.
Pada tahap berikutnya, penurunan konsumsi memperlambat penjualan sektor usaha, menahan laju investasi baru, dan menghambat penyerapan tenaga kerja.
Jalur Suku Bunga: Cicilan KPR dan Kredit Kendaraan Terancam
Tekanan juga datang dari sisi suku bunga. Jika pelemahan rupiah memicu lonjakan inflasi, ruang Bank Indonesia untuk menahan suku bunga menyempit. Suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama akan membuat cicilan KPR dan kredit kendaraan lebih mahal, sementara UMKM menghadapi biaya modal kerja yang membengkak.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF Rizal Taufikurahman menilai penguatan dolar AS tidak sepenuhnya merugikan. Sektor eksportir, industri pariwisata, dan penerima remitansi justru diuntungkan.
"(Sebaliknya) industri yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang valas justru dapat tertekan," ujarnya.
Manfaat terbesar dari strong dollar hanya dinikmati eksportir dengan kandungan lokal tinggi. Rizal menilai level kurs bukan satu-satunya indikator krisis, tetapi rupiah yang menetap di atas Rp18 ribu dan bergerak ke Rp18.500 patut diwaspadai jika disertai pelarian modal, kenaikan yield SBN, penyusutan cadangan devisa, dan inflasi yang meroket.
"Masalah utamanya bukan sekadar level kurs, melainkan kecepatan dan persistensi pelemahannya," ujar Rizal.