DI YOGYAKARTA — Pemerintah China memberlakukan kembali pajak cukai baterai lithium-ion sebesar 2% sejak 1 September, memicu perdebatan sengit antara produsen baterai dan produsen kendaraan listrik soal siapa yang harus menanggung biaya tambahan tersebut. EVE Energy, produsen baterai terbesar kelima dunia, langsung mengumumkan penambahan pajak 2% untuk pesanan domestik, sementara produsen EV menolak menanggung seluruhnya karena margin keuntungan mereka sudah tertekan.
Kebijakan pembebasan pajak yang berlaku 11 tahun resmi dicabut, dan tarif 2% ini dijadwalkan kembali naik menjadi 4% pada September tahun depan. Negosiasi antara kedua pihak masih berlangsung, dengan produsen kendaraan listrik mendesak agar biaya tambahan dibagi, bukan dibebankan sepenuhnya kepada pembeli.
EVE Energy Buka Suara, Produsen EV Protes
EVE Energy menjadi produsen baterai pertama yang secara terbuka mengumumkan penambahan pajak 2% untuk pesanan domestik yang dikirim mulai 1 September. Langkah ini langsung menuai reaksi dari produsen kendaraan listrik yang menilai kebijakan tersebut memberatkan sisi produksi mereka.
Produsen EV berargumen bahwa permintaan domestik sedang melemah, ditambah kebijakan dukungan pemerintah yang semakin berkurang. Menanggung pajak penuh akan mengerek biaya produksi, tetapi menaikkan harga jual berisiko membuat produk mereka kalah bersaing di pasar yang persaingan harganya sudah sangat ketat.
Negosiasi antara produsen baterai dan produsen EV masih berjalan alot. Produsen kendaraan listrik menginginkan produsen baterai ikut menanggung sebagian biaya, bukan melimpahkan seluruhnya ke konsumen akhir.
Baterai Komponen Termahal, Margin Keuntungan Terancam
Baterai lithium-ion merupakan salah satu komponen paling bernilai dalam sebuah kendaraan listrik. Penambahan biaya 2% saja, menurut para ahli, bisa langsung menggerus margin keuntungan di kedua sisi industri.
South China Morning Post melaporkan bahwa tarif 4% untuk baterai lithium-ion dan produk terkait sebenarnya sempat diberlakukan kembali oleh pemerintah China, lalu diturunkan menjadi 2% pada 1 September. Satu tahun kemudian, tarif akan kembali ke angka 4%.
Artinya, tekanan biaya ini bukan masalah jangka pendek. Produsen baterai dan produsen EV China harus menemukan skema pembagian beban yang disepakati bersama, atau menghadapi risiko kenaikan harga kendaraan listrik di pasar domestik yang sudah sensitif terhadap harga.
Dampak ke Rantai Pasokan EV Global
China menguasai sebagian besar produksi baterai lithium-ion dunia. Setiap perubahan struktur biaya di dalam negeri mereka berpotensi merembet ke rantai pasokan global, termasuk ke pasar Indonesia yang saat ini sedang membangun ekosistem kendaraan listrik.
- Tarif awal: 2% untuk baterai lithium-ion dan produk terkait, berlaku sejak 1 September
- Tarif berikutnya: naik menjadi 4% pada September tahun depan
- Pembebasan pajak sebelumnya berlaku selama 11 tahun
- EVE Energy: produsen baterai terbesar kelima dunia berdasarkan produksi
Bagi produsen EV China, menerima pajak penuh berarti biaya produksi naik. Namun menaikkan harga jual di tengah persaingan harga yang ketat justru bisa menurunkan daya saing. Produsen baterai di sisi lain ingin memastikan pendapatan mereka tidak tergerus oleh pajak baru ini.
Negosiasi soal siapa menanggung berapa persen dari pajak ini masih belum menemukan titik temu. Yang jelas, tekanan biaya di rantai pasokan kendaraan listrik China diprediksi masih berlanjut setidaknya hingga tahun depan.