Pencarian

Stasiun Yogyakarta Perkuat Integrasi Antarmoda, 13,4 Juta Penumpang Terlayani Sepanjang Semester I 2026

Senin, 31 Agustus 2026 • 23:15:39 WIB
Stasiun Yogyakarta Perkuat Integrasi Antarmoda, 13,4 Juta Penumpang Terlayani Sepanjang Semester I 2026
Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, memaparkan capaian 13,4 juta penumpang di Stasiun Yogyakarta pada semester I 2026.

KAI Daop 6 Yogyakarta menyiapkan pembangunan area hubungan intermoda di sisi selatan Stasiun Yogyakarta untuk menjawab volume penumpang yang menembus 13,4 juta orang selama semester I 2026. Area ini nantinya menghubungkan perjalanan kereta api dengan angkutan lanjutan seperti Trans Jogja, taksi daring, hingga becak listrik agar mobilitas penumpang berjalan tanpa hambatan.

YOGYAKARTA — Sepanjang semester I 2026, pergerakan penumpang di Stasiun Yogyakarta tercatat sangat tinggi. Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menyebut jumlah pelanggan yang terlayani mencapai 13,4 juta orang, terdiri atas 6,9 juta penumpang kereta api jarak jauh (KAJJ), 5,2 juta penumpang Commuterline, dan 1,3 juta penumpang kereta api bandara. Rata-rata hariannya, 38.122 orang naik KAJJ, 26.332 orang naik KRL, dan 7.420 orang naik KA Bandara.

13,4 Juta Penumpang: Tiga Jenis Layanan Rel Bertumpu di Satu Stasiun

Stasiun Yogyakarta kini menjadi simpul utama yang melayani empat moda berbasis rel sekaligus: KAJJ, KRL Commuter Line Yogyakarta-Palur, Commuter Line Prameks, dan KA Bandara YIA. Menurut Feni, pertumbuhan volume di tiap moda menjadi sinyal positif bahwa masyarakat semakin mengandalkan kereta api.

"Konektivitas di Stasiun Yogyakarta menjawab kebutuhan masyarakat akan integrasi antarmoda dari titik utama Kota Yogyakarta menuju berbagai wilayah strategis," kata Feni di Yogyakarta, Senin.

Rencana Pembangunan: Area Intermoda di Sisi Selatan Stasiun

Untuk mengimbangi lonjakan penumpang, KAI Daop 6 mulai merancang pembangunan area hubungan intermoda khusus untuk tempat naik dan turun penumpang di sisi selatan stasiun. Lokasi ini akan menyambungkan antararmada kereta api sekaligus menjadi titik transit ke moda transportasi lanjutan seperti Trans Jogja, taksi daring, ojek daring, hingga becak listrik pada titik-titik tertentu.

Feni menegaskan bahwa pengembangan ini bukan sekadar membangun fisik, melainkan menciptakan pengalaman perjalanan yang menyambung dari pintu asal hingga tujuan akhir. "Kami ingin penumpang tidak hanya mendapatkan layanan perjalanan kereta api yang baik, tetapi juga kemudahan ketika tiba di stasiun maupun saat akan memulai perjalanan (seamless)," ujarnya.

Integrasi Bukan Sekadar Sambung Moda, Tapi Seamless

Kemudahan akses ini diyakini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi warga di sekitar stasiun. Sektor kuliner, perdagangan, UMKM, hingga jasa pariwisata berpeluang tumbuh seiring semakin mudahnya orang masuk dan keluar kawasan Yogyakarta melalui jalur rel.

"Integrasi antarmoda tidak hanya memberikan kemudahan bagi penumpang, tetapi juga berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat. Semakin mudah mobilitas, semakin besar pula peluang bagi aktivitas ekonomi di sekitar kawasan stasiun untuk tumbuh," kata Feni.

Rancangan pembangunan ini masih dalam tahap persiapan, namun sinyalemen dari KAI Daop 6 menunjukkan komitmen untuk menjadikan Stasiun Yogyakarta sebagai gerbang transportasi regional yang terhubung penuh dengan jaringan angkutan kota.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks