YOGYAKARTA — Sebanyak 25 perajin batik di Yogyakarta mengikuti pelatihan teknis pewarnaan sintetis yang digelar Dispar DIY bersama BBSPJIKB Kemenperin, Senin. Program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi diakhiri dengan sertifikasi kompetensi profesi yang diakui secara nasional.
Mengapa Pewarna Sintetis Menjadi Fokus Pelatihan?
Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi menjelaskan, penguasaan teknik pewarnaan yang tepat menjadi kunci menghasilkan produk batik bermutu tinggi. “Ketahanan warna yang baik, efisiensi proses produksi, serta aspek keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan harus diperhatikan,” ujarnya saat membuka acara.
Pelatihan ini menjawab kebutuhan industri akan standar mutu yang konsisten. Dengan pewarna sintetis, perajin bisa memproduksi batik dalam skala lebih besar tanpa mengorbankan kualitas warna.
Sertifikat Bukan Sekadar Kertas, Melainkan Tiket Pasar Global
Imam menegaskan bahwa sertifikat kompetensi yang diperoleh peserta bukan sekadar dokumen formal. “Ini adalah pengakuan resmi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Modal penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas akses pasar, baik nasional maupun global,” katanya.
Ia berpesan kepada peserta agar tidak hanya mengejar sertifikat. “Jadikan pelatihan ini sarana meningkatkan kualitas karya dan profesionalisme. Aktif berdiskusi, banyak berlatih, dan manfaatkan pengalaman para asesor,” imbuh Imam.
Batik Yogyakarta: Antara Warisan Budaya dan Tulang Punggung Ekonomi
Kepala BBSPJIKB Kemenperin Zya Labiba mengingatkan bahwa batik bukan sekadar produk sandang. “Batik adalah identitas budaya, sumber kreativitas, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat,” ucapnya.
Ia merujuk pada pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009 yang menetapkan Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. “Pengakuan itu menjadi amanah untuk terus menjaga kualitas, meningkatkan kompetensi, dan mendorong inovasi agar batik Indonesia tetap relevan dan berdaya saing,” tegas Zya.
Menurutnya, Yogyakarta memiliki posisi strategis sebagai pusat batik nasional. “Batik menjadi tulang punggung bagi banyak pelaku UMKM, perajin, desainer, hingga pelaku ekonomi kreatif. Peningkatan kualitas SDM adalah kebutuhan yang tidak dapat ditawar,” pungkasnya.
Kolaborasi Berkelanjutan untuk SDM Batik Profesional
Dispar DIY berharap kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pelatihan industri kreatif ini terus diperkuat. Targetnya, batik Yogyakarta semakin berkualitas, inovatif, berkelanjutan, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Harapannya, pelatihan ini melahirkan SDM batik yang kompeten, profesional, serta mampu mengangkat martabat batik Indonesia di kancah dunia,” tutup Imam Pratanadi.