DI YOGYAKARTA — General Manager Arema FC, Yusrinal, secara langsung menyampaikan keputusan ini di Malang. Ia menegaskan bahwa Dedik bukan sekadar pemain, melainkan bagian dari sejarah klub yang telah melalui berbagai fase penting, termasuk masa kejayaan dan periode sulit pasca-Tragedi Kanjuruhan.
Loyalitas di Tengah Pasang Surut Singo Edan
Dedik bergabung dengan Arema FC pada 2016 setelah meniti karier dari SSB Sinar Mas Turen dan Persekam Metro. Selama berseragam biru, ia mencatat lebih dari 190 penampilan di Liga 1 dan menjadi salah satu pemain lokal dengan masa bakti terpanjang di era modern klub.
Puncak produktivitasnya terjadi pada musim 2019. Saat itu, Dedik mencetak tujuh gol dari 11 pertandingan sebelum cedera ACL di akhir tahun memaksanya menjalani operasi dan menepi panjang. Ia berhasil bangkit dan kembali menjadi andalan setelah melewati masa pemulihan berat.
Empat Gelar Piala Presiden dan Kiprah di Timnas
Bersama Arema, Dedik ikut merasakan euforia empat gelar juara Piala Presiden pada 2017, 2019, 2022, dan 2024. Kontribusinya di lini depan, terutama dalam membuka ruang dan kerja keras tanpa lelah, menjadi ciri khas yang melekat.
Di level tim nasional, Dedik menjadi langganan skuad Garuda era Shin Tae-yong. Ia tampil di Piala AFF 2018 dan AFF 2020, saat Indonesia melaju hingga final dan finis sebagai runner-up. Meski minim gol di turnamen tersebut, perannya sebagai pekerja keras di lini depan tetap dihargai.
Manajemen: Dedik Tetap Bagian dari Keluarga Besar Arema
Yusrinal menegaskan bahwa perpisahan ini merupakan bagian dari dinamika sepak bola profesional. Meski kerja sama resmi berakhir, hubungan baik antara klub dan pemain berusia 31 tahun itu tidak akan terputus.
“Dedik akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar Arema FC, dan pintu silaturahmi akan selalu terbuka untuknya,” ujar Yusrinal dalam pernyataan resmi.
Manajemen juga mendoakan Dedik sukses di klub barunya nanti. Mereka berharap semangat juang khas Arek Malang tetap menjadi identitas yang melekat dalam perjalanan karier berikutnya.