PLN Indonesia Power Beberkan Peluang 1,7 Juta Tenaga Kerja Sektor Energi

Penulis: Boyke Sihombing  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 10:38:01 WIB
Dirut PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyampaikan paparan dalam forum InPower Talks di ITS Surabaya, Jumat (16/10).

DI YOGYAKARTA — PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menyiapkan generasi muda menghadapi transformasi ketenagalistrikan lewat gelaran InPower Talks di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (16/10). Pelaksanaan RUPTL 2025–2034 diproyeksikan menyerap 1,7 juta tenaga kerja, sehingga penguatan kompetensi menjadi kian mendesak.

PLN Indonesia Power (PLN IP) menggelar InPower Talks di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (16/10), sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-31 perusahaan. Forum bertema "Powering Ideas, Empowering Future Leaders" itu mempertemukan perspektif industri dan akademisi untuk memperluas wawasan mahasiswa soal tantangan sektor ketenagalistrikan dan perkembangan teknologi energi terbarukan.

Hadir dalam acara tersebut Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta, Wakil Rektor IV ITS Prof. Agus Muhamad Hatta, serta Guru Besar Teknik Elektro ITS Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari. Diskusi dipandu Ir. Sefi Novendra Patrialova yang menjembatani pandangan industri dan kampus.

Peluang 1,7 Juta Tenaga Kerja dari RUPTL 2025–2034

Bernadus menyoroti pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang diproyeksikan menyerap 1,7 juta tenaga kerja. Angka itu, menurutnya, membuka ruang besar bagi tumbuhnya talenta baru di bidang energi.

Karena itu, penguatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi semakin penting. Bernadus menegaskan kesiapan generasi muda tidak cukup hanya ditopang penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Di tengah perkembangan teknologi dan era AI, generasi muda tidak cukup hanya menguasai ilmu dan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan beradaptasi," ujar Bernadus Sudarmanta.

Menurutnya, AI dapat menjadi alat untuk membantu menyelesaikan berbagai tantangan. Namun kemampuan manusia dalam menilai informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memimpin perubahan tetap menjadi hal yang penting.

Dorongan Riset dan Inovasi dari Kampus

Dari sisi akademisi, Agus Muhamad Hatta menekankan peran generasi muda dalam menjawab tantangan transisi energi melalui pengembangan teknologi dan riset. Kemajuan sektor energi, katanya, tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan generasi muda menghadirkan inovasi yang berkelanjutan dan sesuai kebutuhan masyarakat.

"Kami juga mendorong mahasiswa untuk mencari peluang riset dan terlibat dalam pengembangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi agar kompetensi yang dimiliki tetap relevan dengan kebutuhan transisi energi," jelas Agus dalam keterangannya dikutip Sabtu (24/10).

Agus menyampaikan apresiasi kepada PLN Indonesia Power dan berharap kegiatan yang memberi inspirasi kepada generasi muda dapat terus berlanjut. Harapannya, semakin banyak anak muda terdorong mengambil peran dan menjadi pemimpin di sektor energi pada masa mendatang.

Tantangan Teknologi Energi Terbarukan

Mochamad Ashari memaparkan materi bertajuk "Renewable Energy, Technology Challenge for Innovation". Paparan itu mengulas keterkaitan antara bumi, teknologi, dan masyarakat, serta tantangan pengembangan energi terbarukan dalam mendukung transisi energi dan pencapaian Net Zero Emissions (NZE).

Ashari menjelaskan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan perlu diiringi inovasi teknologi untuk menjawab berbagai tantangan operasional. Cakupannya meliputi pengembangan sistem penyimpanan energi untuk mengelola karakteristik intermiten sumber energi terbarukan.

Selain itu, ada pula penentuan kapasitas dan lokasi penyimpanan yang optimal pada jaringan distribusi, serta penerapan Virtual Power Plant untuk mengoordinasikan sumber energi terdistribusi agar terintegrasi dengan sistem ketenagalistrikan.

Pembahasan itu memperlihatkan transformasi energi membutuhkan keterpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan riset, dan implementasi di lapangan. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri menjadi kunci agar gagasan inovatif dapat dikembangkan menjadi solusi yang aplikatif.

Bagi PLN Indonesia Power, InPower Talks menjadi salah satu cara perusahaan pelat merah itu mendekatkan dunia kampus dengan kebutuhan industri energi yang terus berubah, sekaligus menyiapkan pasokan talenta di tengah percepatan transisi energi nasional.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top