YOGYAKARTA — Heruwa menilai pemahaman terhadap akar budaya menjadi bekal penting bagi anak muda agar tidak kehilangan pegangan saat teknologi bergerak cepat. Budaya lokal dan sejarah, katanya, berfungsi sebagai fondasi yang membuat generasi sekarang mampu menyikapi perubahan tanpa tercerabut dari identitasnya.
Pesan itu disampaikan Heruwa dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (19/10/2026). Ia menyoroti tantangan yang dihadapi anak muda dalam mempertahankan identitas bangsa di tengah arus modernisasi.
Bagi Heruwa, mempelajari tradisi dan sejarah bukan aktivitas yang berhenti pada hafalan atau seremonial. Pengetahuan itu menjadi cara anak muda memahami dari mana mereka berasal, lalu memakainya untuk menimbang pengaruh luar yang masuk setiap hari.
“Buat generasi sekarang, untuk jangan lupa mempelajari budaya lokal, tradisional, dan sejarah, supaya itu bisa menjadi fondasi untuk menghadapi zaman sekarang”, ujar Heruwa.
Pandangan tersebut relevan di DI Yogyakarta, daerah yang dikenal kaya tradisi sekaligus menjadi tujuan banyak pendatang dan pusat pendidikan. Anak muda di wilayah ini hidup berdampingan dengan warisan budaya seperti batik, wayang, gamelan, hingga bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari.
Selain budaya, Heruwa menyoroti pentingnya menjaga kelestarian alam. Pria kelahiran Bali itu mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, agar bijak memanfaatkan sumber daya alam.
Dua imbauan itu ia rangkai dalam satu pesan: kemajuan zaman tidak cukup diukur dari perkembangan teknologi. Kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan warisan budaya sama-sama menentukan kualitas masa depan generasi mendatang.
Heruwa menegaskan, budaya lokal dan sejarah tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Keduanya dapat menjadi pijakan bagi generasi muda untuk memahami identitas diri sekaligus menyikapi perubahan yang terus berlangsung.
Seruan Heruwa menyiratkan bahwa pelestarian budaya tidak harus menunggu forum resmi atau program pemerintah. Anak muda bisa memulainya dari hal kecil: mengenal sejarah kampung sendiri, memakai produk budaya lokal, atau terlibat dalam kegiatan seni dan komunitas di sekitarnya.
Untuk lingkungan, imbauan bijak memanfaatkan sumber daya alam dapat diterjemahkan ke kebiasaan sehari-hari. Mengurangi sampah plastik, menghemat air, dan merawat ruang terbuka hijau termasuk langkah yang bisa dilakukan tanpa menunggu instruksi.
Pesan Heruwa menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dan pelestarian budaya bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama generasi muda punya pegangan nilai yang jelas.