Pokdakan Ngupoyo Mino Sleman Kembangkan 355 Kolam Bioflok, Target Pasok Lele dan Patin di Jogja

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:32:31 WIB
Kolam bioflok Pokdakan Ngupoyo Mino di Sleman dikembangkan hingga mencapai 355 unit untuk meningkatkan produksi lele dan patin.

SLEMAN — Ketua Pokdakan Ngupoyo Mino, Suharyanto, menyebut ketersediaan air bersih di wilayah Desa Sanggrahan menjadi kekuatan utama pengembangan usaha budidaya. Saat ini serapan lele dan patin di kelompoknya tergolong tinggi, sehingga kapasitas produksi harus terus ditingkatkan.

Dari yang awalnya hanya puluhan kolam, kawasan budidaya kelompok ini kini berkembang hingga memiliki 355 kolam. Komoditas unggulan tetap lele dan patin, disusul nila serta sejumlah varietas ikan air tawar lain mengikuti permintaan pasar.

Kesenjangan Pasokan: 1-2 Ton per Dua Hari vs Kebutuhan 40-50 Ton per Hari

Kebutuhan konsumsi ikan di Jogjakarta terbilang sangat tinggi, mencapai 40-50 ton per hari. Sementara Pokdakan Ngupoyo Mino baru mampu memasok sekitar 1 hingga 2 ton per dua hari.

Selisih pasokan yang lebar membuat Jogjakarta masih bergantung pada pasokan ikan dari luar daerah. Kelompok ini pun menggenjot modernisasi sistem budidaya untuk menutup kesenjangan tersebut.

Langkah konkretnya adalah mengefektifkan pemanfaatan 355 kolam bundar berbasis teknologi bioflok. Sebanyak 50 hingga 60 kolam bioflok telah beroperasi dan kapasitasnya terus ditingkatkan.

Perbaikan Irigasi hingga Pagar Pengaman Kolam

Untuk menunjang ekspansi, kelompok secara bertahap membenahi infrastruktur secara menyeluruh. Pembenahan mencakup perbaikan saluran irigasi teknis, pembangunan pagar pengaman di sekeliling area kolam, hingga pemasangan peneduh infrastruktur penolak hama.

Peneduh itu berfungsi melindungi benih dan ikan siap panen dari serangan hama predator seperti burung. Perjalanan kelompok ini pun tidak selalu mulus.

Suharyanto mengakui kelompoknya pernah mengalami fase jatuh bangun akibat tingginya tingkat kematian ikan. Penyebabnya beragam, dari perubahan cuaca ekstrem hingga kendala kedisiplinan serta ketidaktelatenan pekerja di lapangan.

"Belajar dari pengalaman jatuh bangun dalam tiga tahun terakhir ini, kami menyadari betul bahwa ketelatenan, keuletan, dan kedisiplinan manajemen merupakan kunci utama untuk mencapai target produksi. Tanpa kedisiplinan, teknologi sebaik apa pun tidak akan memberikan hasil optimal," tegas Suharyanto.

Pendampingan Pencatatan Rasio Pakan dan Manajemen Keuangan

Penguatan tata kelola teknis dan operasional kelompok mendapat pengawalan profesional. Konsultan dan Ekspertis Perbaikan Kolam Bioflok dan Manajerial, Yudha Hanggara, menyatakan komitmennya mendampingi pengurus dalam menata sistem operasional harian.

"Kami hadir melakukan pendampingan teknis, mulai dari perbaikan jaringan irigasi air, pencatatan rasio pakan (feed conversion ratio) yang terukur dan terintegrasi, hingga penyusunan standar manajemen keuangan yang tepat. Hal ini penting agar modal kerja serta perolehan keuntungan tercatat secara akuntabel, sehingga Pokdakan Ngupoyo Mino mampu tumbuh berkelanjutan dan mencapai target ekspansinya," jelas Yudha Hanggara.

LPMUKP KKP Siap Fasilitasi Modal Kerja

Kesiapan infrastruktur dan efisiensi manajemen diperkuat dengan terjaminnya akses permodalan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) KKP menyatakan komitmen penuh mendanai kebutuhan modal kerja kelompok.

Kepala Divisi Bisnis II LPMUKP KKP, Darmawan Sidik, menegaskan pemerintah berkomitmen membangkitkan kembali sentra-sentra budidaya potensial yang sempat mengalami kendala permodalan.

"LPMUKP akan mendukung penuh para pembudidaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Salah satunya adalah Pokdakan Ngupoyo Mino di Sleman ini. Dengan potensi air yang melimpah dan komitmen pengurus yang kuat, kami siap memfasilitasi kebutuhan modal kerja agar mereka dapat melakukan produksi secara maksimal," pungkas Darmawan Sidik.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: indoposco.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top