YOGYAKARTA — Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026 tidak berhenti pada pameran produk. Panitia menyiapkan seminar inovasi daerah, diskusi, hingga layanan publik yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam satu ruang kolaborasi.
Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyebut keterlibatan kampusnya sebagai mitra Pemkot Yogyakarta menjadi jalan memperkuat kerja sama lintas sektor. Menurut dia, hasil inovasi perlu sampai ke penerapan, bukan sekadar dipamerkan.
"Sudah saatnya kita bergandengan tangan, berkomunikasi, dan berkolaborasi untuk melihat apa yang bisa dilakukan bersama. Kita perlu meningkatkan inovasi di Yogyakarta dan menghidupkan kolaborasi lintas sektor agar menghasilkan dampak bagi masyarakat," ujarnya.
FIJ 2026 menampilkan 30 karya inovasi terkurasi dari 136 produk yang diajukan OPD Pemkot Yogyakarta. Seleksi itu memperlihatkan bahwa tidak semua gagasan langsung layak dipamerkan ke publik.
Kepala Bappeda Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono, S.T., M.T., menegaskan keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari jumlah gagasan atau program. Inovasi perlu diuji, dikembangkan, dan direplikasi agar mampu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Agus juga menyoroti pentingnya keberlanjutan inovasi dan penguatan literasi riset sejak dini. Salah satu caranya lewat Apresiasi Inovasi Pelajar (AIP) yang mendorong pelajar mengembangkan rasa ingin tahu dan kemampuan memecahkan masalah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta Kadri Renggono, M.Si., yang mewakili pemerintah kota, menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci mengatasi keterbatasan sumber daya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.
"Pemerintah juga memiliki keterbatasan. Namun, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tentu akan ada manfaat yang bisa dirasakan bersama," katanya.
Kadri menambahkan, kerja sama lintas sektor berpeluang mengembangkan potensi daerah, termasuk ekonomi kreatif, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Arah kebijakan inovasi Kota Yogyakarta, menurut dia, berorientasi pada penyelesaian masalah, berbasis bukti, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Semangat kolaborasi itu dibahas lebih lanjut dalam Seminar Inovasi Daerah di Lecture Hall Pdt. Dr. Rudy Budiman, UKDW. Seminar menghadirkan Kadri Renggono, Wiyatiningsih, dan CEO PT Gamatechno Indonesia Eddy Nurmanto sebagai pembicara.
Dari perspektif teknologi, Eddy menyoroti pentingnya ekosistem inovasi yang menghubungkan kebijakan, penelitian, dunia usaha, investor, dan kebutuhan masyarakat. Keterhubungan antarpihak diperlukan agar inovasi menghasilkan solusi yang lebih luas.
Wiyatiningsih menambahkan, perguruan tinggi berperan menghubungkan penelitian dan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui tridarma perguruan tinggi, UKDW mendorong integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif.
Penelitian, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Penelitian perlu membuka peluang penerapan yang memberi manfaat nyata, dengan pendekatan multidisiplin dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting.
Penyelenggaraan FIJ 2026 beriringan dengan peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta dan Dies Natalis ke-64 Duta Wacana. Lewat kegiatan ini, UKDW bersama Pemkot Yogyakarta mendorong penguatan ekosistem inovasi yang bertumpu pada riset, kolaborasi, dan penerapan solusi bagi masyarakat.
Wiyatiningsih menekankan perlunya dukungan kelembagaan dan kemitraan dengan berbagai pihak. Tujuannya agar inovasi tidak bergantung pada individu, melainkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan.